Pengurangan DOC Belum Merata

Dua minggu pasca Surat Keputusan Menteri Pertanian tentang Pengurangan DOC FS Broiler, DOC FS Jantan Layer, dan FS Ayam Layer, harga ayam hidup di tingkat peternak terkerek tipis di atas HPP. Meski demikian, efek serupa tidak terjadi pada telur ayam\n\n
Azizah Nur Alfi | 12 April 2017 05:59 WIB
Anak ayam usia sehari (day old chick). - Ilustrasi/Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA - Dua minggu pasca Surat Keputusan Menteri Pertanian tentang Pengurangan DOC FS Broiler, DOC FS Jantan Layer, dan FS Ayam Layer, harga ayam hidup di tingkat peternak terkerek tipis di atas HPP. Meski demikian, efek serupa tidak terjadi pada telur ayam.

Ketua Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas Krissantono menyebut harga ayam hidup yang mulai naik di Jawa Barat dan Jabodetabek merupakan efek psikologis dari upaya pemerintah mengurangi over produksi DOC broiler. Sementara, harga telur ayam masih di bawah Harga Pokok Produksi.

Dia menyampaikan ada indikasi pelaksanaan SK Mentan tersebut belum merata pada seluruh peternak layer. Pemerintah perlu menyusun langkah jangka pendek untuk menolong para peternak layer ini. “Kalau dikatakan 100 persen belum tercapai seluruhnya. Yang melakukan baru 60%,” tuturnya, Selasa (11/4).

Soal ini pernah disampaikan Dirjen PKH I Ketut Diarmita pada rapat bersama Komisi 6, peternak layer dan broiler, dan Kemendag. Dia menyebut bahwa baru 9 dari 15 industri yang menjalankan SK Mentan. Kementerian Pertanian akan terus melakukan pemetaan pengurangan DOC. Bagi peternak yang tidak tertib, terbuka kemungkinan tidak mendapatkan izin impor GPS.

Krissantono mengingatkan pemerintah memperhatikan prinsip kehati-hatian dalam upaya pengurangan DOC agar terjadi keseimbangan supply and demand. Menurutnya, jangan sampai asal mengurangi DOC, yang kemudian berakibat pada pasokan ayam yang kurang menjelang lebaran.

Pemerintah perlu memperhatikan faktor menjelang puasa dan lebaran yang turut mendongkrak harga. Saat ini merupakan masa membuahi, dimana peternak memelihara ayam sebanyak-banyakanya untuk dapat memperoleh keuntungan di Lebaran. Karena masa panen para peternak adalah di saat lebaran.

Dengan demikian, GPPU akan terus ikut mengawasi pelaksanaan SK Mentan tersebut sehingga terjadi keseimbangan supply and demand, yang berimplikasi pada harga.

“Upaya pengurangan akibat ada pengurangan produksi masih diteruskan dalam dua minggu berikutnya. Kami berusaha kuat supaya terjadi keseimbangan supply and demand, sehingga berimplikasi pada harga live bird dan telur. Ini garis besar rapat unggas semalam (10/4),” katanya.

Direktur Perbibitan Dan Produksi Ternak Surachman Suwardi mengakui hasil evaluasi dua minggu pasca terbit SK Mentan menunjukkan masih ada yang melakukan proses pengurangan DOC. Pemerintah akan terus melakukan pengasan dan evaluasi. Sehingga, secara bertahap keseimbangan supply and demand akan tercapai.

Dia juga mengingatkan bahwa SK Mentan berlaku juga untuk peternak mandiri. “Pemerintah akan terus sosialisasikan SK Mentan ini,” imbuhnya.

Tag : peternakan
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top