Populasi Ayam Diatur, Harga Telur Masih Tertekan

Harga telur ayam masih belum terangkat pasca tiga pekan kebijakan SK Mentan tentang Pengurangan DOC FS Broiler, DOC FS Jantan Layer, dan FS Ayam Layer.
Azizah Nur Alfi | 17 April 2017 11:56 WIB
Peternak mengambil telur ayam broiler di salah satu peternakan di Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Selasa (7/3). - Antara/Aditya Pradana Putra

Bisnis.com, JAKARTA - Harga telur ayam masih belum terangkat pasca tiga pekan kebijakan SK Mentan tentang Pengurangan DOC FS Broiler, DOC FS Jantan Layer, dan FS Ayam Layer.

SK Mentan itu mengatur soal pengurangan populasi benih ayam pedaging (broiler) dan ayam petelur yang akan dibudidayakan para peternak.

Sekretaris Jenderal Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (Gopan) Sugeng Wahyudi menyampaikan harga telur ayam masih di bawah rata-rata Harga Pokok Produksi sebesar Rp17.500 per kg, seperti di Blitar dan sekitarnya Rp13.800 per kg, serta Bogor dan sekitarnya Rp15.800 per kg.

Sugeng menyebut peternak telur masih dihadapkan mahalnya harga jagung sebagai 50% komposisi pakan ternak. Sementara pakan ternak berkontribusi pada 70% biaya produksi.

Beruntung, sejak Senin (10/4/2017) minggu lalu, Bulog mengeluarkan stok jagung sebanyak 122.671 ton dan membagikan kepada peternak mandiri sesuai kebutuhan masing-masing daerah. Dengan demikian, peternak dapat memperoleh jagung sesuai harga acuan yakni Rp3.150 per kg, di bawah harga pasar Rp4.500 per kg.

"Diharapkan itu bisa membantu keberlangsungan peternak telur," tuturnya, Minggu (16/4/2017).

Selain pengurangan DOC layer, imbuhnya, peternak meminta pemerintah melakukan pengetatan izin impor tepung telur seperti disampaikan pada Rapat Kerja bersama Kementan, Kemendag, KPPU, dan Komisi 6 beberapa waktu lalu. Meski masih dalam volume kecil, imbuhnya, impor tepung telur berkontribusi pada jatuhnya harga telur ayam dalam negeri.

"Artinya porsi tersebut seharusnya bisa dipenuhi dalam negeri. Daya serap bisa dipenuhi dari telur lokal," imbuhnya.

Pusat data dan informasi Kementerian Pertanian, volume impor telur dikeringkan tahun ini sebesar 1.068 ton, naik dari tahun sebelumnya sebesar 851,7 ton. Sementara, volume impor kuning telur dikeringkan pada 2016 sebesar 463,3 ton, naik dari tahun sebelumnya sebesar 458,5 ton.

Direktur Kesehatan Hewan Fajar Sumping menyampaikan impor tepung telur jika dikonversikan dengan butir telur hanya 1% dari total produksi telur nasional. Tepung telur salah satunya banyak didatangkan dari India. Tepung telur banyak digunakan oleh industri kue skala besar yang mensyaratkan teknis tertentu yang harus dipenuhi seperti daya rekat, proses fermentasi.

Tag : peternakan
Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top