Konsorsium Cirebon Power Peroleh Pendanaan Rp23 Triliun

PLTU Cirebon Ekspansi diestimasi mampu menghasilkan energi sebesar 7.533 GwH per tahun. Daya yang dihasilkan akan memperkuat sistem interkoneksi JawaBali, melalui Gardu Induk Mandirancang 500kV. Saat ini, kapasitas terpasang sistem Jawa-Bali sebesar 33.863MW, dengan daya mampu 31.614 MW dan beban puncak 24.589MW.
Arys Aditya | 18 April 2017 11:35 WIB
Pekerja memerbaiki jaringan listrik PLN. - Bloomberg/Dimas Ardian

Bisnis.com, JAKARTA — Konsorsium Multinasional Cirebon Power menandatangani kesepakatan pembiayaan atau loan agreement dengan Japan Bank for International Cooperation (JBIC), Korea Eximbank (KEXIM), dan Nippon Export and Investment Insurance (NEXI) senilai US$1,74 miliar setara lebih dari Rp23 triliun untuk proyek PLTU Cirebon Ekspansi.

Kesepakatan pembiayaan ini juga akan segera diikuti dengan rampungnya proses pembiayaan pembangunan (financial close) pada 8 Mei 2017. Penandatanganan perjanjian pinjaman ini menandakan kemampuan pendanaan untuk konstruksi proyek Cirebon Ekspansi 1 x 1.000MW atau juga disebut PLTU Cirebon Unit 2.

Presiden Direktur PT Cirebon Energi Prasarana Heru Dewanto menyatakan pihaknya optimistis pembangunan pembangkit dengan teknologi Ultra Super Critical (USC) ini dapat dilakukan dalam waktu 51 bulan.

“Dengan dukungan pendanaan dan juga kemampuan teknis yang telah teruji, kami yakin target operasional atau Commercial Operation Date [COD] bisa tecapai pada 2021. Kami ingin segera memberi kontribusi tambahan untuk menerangi Nusantara," katanya melalui keterangan resmi, Selasa (18/4/2017).

PLTU Cirebon Ekspansi diestimasi mampu menghasilkan energi sebesar 7.533 GwH per tahun. Daya yang dihasilkan akan memperkuat sistem interkoneksi Jawa—Bali, melalui Gardu Induk Mandirancang 500kV. Saat ini, kapasitas terpasang sistem Jawa-Bali sebesar 33.863MW, dengan daya mampu 31.614 MW dan beban puncak 24.589MW.

Heru menuturkan pembangunan PLTU Cirebon Unit 2 dapat memberi manfaat kepada masyarakat yang pada akhirnya bisa memberikan efek domino terhadap pertumbuhan ekonomi, khususnya di wilayah Cirebon, Jawa Barat,  dan sekitarnya.

Nantinya, pembangkit listrik yang teknologi USC ini akan menggunakan batu bara kalori rendah, yakni 4.000-4.600 kkal/kg sehingga dapat melakukan pembakaran dengan efisiensi tinggi dan lebih ramah lingkungan.

Cirebon Power adalah konsorsium sejumlah korporasi multi nasional yaitu Marubeni (Jepang), Indika Energy (Indonesia), KOMIPO, Chubu dan Samtan (Korea). Sejak 2012, Cirebon Power telah mengoperasikan Pembangkit Unit 1 berkapasitas 660 MW dengan teknologi Super Critical Boiler.

Sejak beroperasi, pembangkit Cirebon Unit 1 telah berperan sebagai salah satu penopang utama sistem kelistrikan Jawa-Bali dengan menyumbang 4.914 GwH/tahun, dan berhasil menjaga tingkat pasokan listrik (availability factor) sampai 97%.

Sebelumnya, PT Cirebon Energi Prasarana sebagai salah satu pengembang listrik swasta (Independent Power Producer/IPP) telah menuntaskan kesepakatan pembelian daya (Power Purchase Agreement/PPA) Proyek Cirebon Ekpansi dengan PT PLN pada 23 Oktober 2015.

Sejak itu, Cirebon Power telah memulai berbagai pekerjaan prakonstruksi dengan menggandeng Hyundai Engineering and Constructioin (HDEC) sebagai main contractor.

Heru mengatakan penggunaan batubara dalam proyek listriknya tidak mengancam lingkungan. Sebab teknologi yang digunakan merupakan batubara bersih yang menghasilkan emisi jauh di bawah ambang batas yang diatur pemerintah.

Tag : listrik, pltu
Editor : Stefanus Arief Setiaji

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top