Asosiasi Bantah Harga Lahan di KI Tinggi

Kalangan pelaku usaha kawasan industri membantah pernyataan pemerintah yang menyebut harga lahan di KI Indonesia lebih tinggi dari kawasan di beberapa negara di Asia. Pasalnya, dalam 2 tahun terakhir harga lahan bahkan menunjukkan tren penurunan.
Dara Aziliya | 19 April 2017 12:43 WIB
Pekerja mengoperasikan mesin pada uji coba produksi pabrik PT Petrokimia Butadiene Indonesia (PBI) yang berlokasi di komplek pabrik PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (CAP), Cilegon, Banten, Jumat (25/10). Pabrik butadiene pertama di Indonesia berkapasitas produksi 120.000 ton per tahun. - antara

Bisnis.com, JAKARTA – Kalangan pelaku usaha kawasan industri membantah pernyataan pemerintah yang menyebut harga lahan di Indonesia lebih tinggi dari kawasan di beberapa negara di Asia. Pasalnya, dalam 2 tahun terakhir harga lahan bahkan menunjukkan tren penurunan.
Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri (HKI) Sanny Iskandar mengungkapkan perlemahan ekonomi global dan nasional dalam 2 tahun terakhir berdampak pada jumlah penurunan jumlah pembukaan lahan usaha oleh investor, termasuk di kawasan industri.
“Situasi perekonomian kemarin memang lesu, sehingga industri baru berkurang. Kalau industrinya berkurang, pembukaan pabrik-pabrik di lahan baru juga berkurang. Harga lahan [di Kawasan Industri] 2 tahun terakhir justru semakin turun. Tpai perlu dilihat juga lokasinya di mana,” jelas Sanny di Jakarta, Rabu (19/4/2017).
Sanny menjelaskan ada beberapa hal yang sangat memengaruhi harga lahan di KI. Pertama, supply dan demand. Meski pemerintah menggalakkan industri masuk KI, sejumlah KI juga masih berjuang mencari tenant yang potensial.
Kedua, iklim investasi di KI juga terpapar isu investasi di negara lain. Dia mencontohkan beberapa industri yang sempat berencana membuka pabrik di Indonesia, tetapi akhirnya merealisasikannya di Vietnam karena insentif industri di negara itu yang sangat menarik.
“Iklim investasi di Indonesia masih harus terus diperbaiki. Sekarang banyak industri yang berkembangnya ke daerah-daerah Asean lainnya. Ini menyangkut daya saing kita dengan mereka,” terang Sanny.
Dia mengakui harga lahan di KI sempat melonjak pada awal-awal tumbuh berkembangnya KI di Tanah Air. Pada akhir 1990-an misalnya, harga lahan di KI mencapai US$70—US$80 per meter persegi. Pada 2010-2012, harga sempat mengalami kenaikan, namun kembali turun dalam dua tahun terakhir.
Dia menggarisbawahi harga lahan industri di Pulau Jawa memang relatif tinggi karena jumlahnya pun menipis. Untuk itu, industri dapat menyasar kawasan-kawasan Industri yang telah beroperasi dan akan segera dipasarkan di Luar Jawa.
Sebelumnya, Dirjen Pengembangan Perwilayahan Industri (PPI) Kementerian Perindustrian Imam Haryono menyebut harga lahan di KI Indonesia melonjak sejak pemerintah mewajibkan industri masuk ke KI pada 2010. Hal itu membuat harga KI di Jabodetabek dan sekitarnya lebih mahal dari KI Malaysia, Beijing, Shanghai, dan Bangkok.

Tag : kawasan industri
Editor : Ratna Ariyanti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top