Fokus Pangkas Biaya Logistik, Pemerintah Soroti THC

Seiring terus berupaya menurunkan angka dwelling time, Pemerintah kini juga mulai melakukan pemetaan penyebab tingginya biaya logistik pada sejumlah sektor, terutama di pelabuhan, sehingga bisa dilakukan efisiensi.
Puput Ady Sukarno | 19 April 2017 00:33 WIB
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan. - JIBI

Bisnis.com, JAKARTA - Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan mengatakan bahwa saat ini pihaknya bersama Kemenhub sedang melakukan pembedahan struktur biaya di pelabuhan dalam rangka menurunkan biaya logistik tersebut.

“Kita bersepakat untuk membuka struktur biaya di pelabuhan sehingga kita bisa menghemat biaya-biaya di situ. Sekarang kan dwelling time sudah turun, tapi cost-nya masih dianggap tinggi. Jadi kita periksa satu per satu, mana yang bisa diturunin," ujarnya, Selasa (18/4/2017).

Menurutnya, salah satu struktur yang bisa dilakukan pembedahan tersebut adalah pengenaan tarif Terminal Handling Charge (THC). "THC itu untuk apa? Ongkosnya cukup mahal,” katanya.

Dengan evaluasi pengenaan THC yang dapat dipangkas itu diharapkan dapat meningkatkan efisiensi biaya di pelabuhan.

Pasalnya, THC diperkirakan memakan porsi mencapai hingga 33% dari seluruh biaya di Pelabuhan Tanjung Perak dan 28% biaya di Pelabuhan Makassar. Terminal Handling Charges (THC) adalah gabungan biaya antara Container Handling Charger (CHC) dan surcharge.

CHC adalah biaya yang dikenakan oleh pengelola terminal peti kemas kepada pengguna jasanya, (biasanya adalah shipping line), dari sejak kapal sandar, membongkar muatan hingga menumpuk peti kemas di lapangan penumpukan atau stacking/container yard.

“Sampai seefisien mungkin. Saya belum bisa ngomong (persentasenya), tapi THC itu sampai 33% dari semua cost di Surabaya, 28% di Makassar, di Priok kita mau lihat. Kalau itu bisa dihemat bisa efisien,” ujarnya.

Pihaknya juga menyatakan akan menggandeng Djakarta Lloyd untuk diminta membantu menghitung struktur biaya yang wajar.

“Kalau dwelling time bisa kita pertahankan di bawah 3 hari, kemudian cost bisa kita perkecil, kita minta Djakarta Lloyd untuk membantu memformulasikan,” terangnya.

Selain itu, Pelindo II juga akan kembali diundang rapat ke Kemenko Kemaritiman pertengahan pekan ini untuk menjelaskan lebih rinci terkait biaya-biaya di pelabuhan.
Pihaknya berharap proses pemetaan tersebut dapat selesai pada Mei 2017.

"Besok Kamis kita mau ketemu (Pelindo II), kita breakdown angka-angkanya. Saya berharap Mei 2017 kita sudah lebih tajam,” tuturnya.

Tag : logistik
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top