KINERJA EKSPOR: Indonesia Sasar Emerging Market

Negara-negara berkembang menjadi sasaran utama Indonesia dalam meningkatkan kinerja ekspor
Annisa Margrit | 20 April 2017 13:54 WIB
Ilustrasi. - .Bisnis/Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, JAKARTA— Negara-negara berkembang menjadi sasaran utama Indonesia dalam meningkatkan kinerja ekspor.

Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan (BP3), Kementerian Perdagangan, Kasan Muhri mengungkapkan pemerintah sedang menyiapkan perjanjian bilateral dengan 16 negara, yang tersebar di Timur Tengah, Afrika, dan Eurasia. Selama ini, Indonesia baru memiliki dua perjanjian dagang bilateral yaitu dengan Jepang dan Pakistan.

“Emerging market misalnya Mesir, Tunisia, Arab Saudi. Lalu ada Sri Lanka, Nigeria, Kenya, Bangladesh, dan Mozambik,” sebut dia kepada Bisnis di sela-sela Indonesia Summit, Kamis (20/4/2017).

Indonesia sudah menjalin Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA) sejak 10 tahun lalu. Namun, penerapannya belum maksimal termasuk mengenai tarif bea masuk beberapa produk sehingga kedua negara akan memperdalam kemitraan dagang tersebut.

Indonesia juga telah mempunyai Preferential Trade Agreement (PTA) dengan Pakistan sejak 2012. Selama ini, produk ekspor utama Indonesia ke negara Asia Selatan itu adalah produk kelapa sawit dan turunannya, kertas, produk kimia, dan produk olahan lain. Adapun Pakistan banyak memasok beras, kapas, jeruk, woven fabrics of cotton, dan ikan beku.

Nantinya, perjanjian dagang bilateral dengan 16 negara itu akan disesuaikan dengan posisi negara yang disasar.

“Sekarang yang totalnya 16 negara itu pendekatannya melalui bilateral, minimal bentuknya PTA juga. Tetapi, tergantung negaranya, misalnya dengan Afrika Selatan tentu bisa lebih dari PTA,” tutur Kasan.

Selama ini, lanjut dia, pasar emerging market baru dimanfaatkan secara maksimal oleh China dan India. Oleh karena itu, Indonesia dinilai perlu memperdalam potensi ini dan memanfaatkannya.

Pendekatan terhadap ke-16 negara itu diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekspor nasional, yang tahun lalu turun 3,94% menjadi US$144,43 miliar. Untuk 2017, pemerintah menargetkan kenaikan ekspor sebesar 5,6%.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), realisasi ekspor dalam tiga bulan pertama 2017 meningkat 20,84% secara year-on-year (YoY) menjadi US$40,6 miliar dari periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya US$33,6 miliar. 

Tag : ekspor
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top