Perikanan Budidaya Kurang Perhatian, Ini Rekomendasi MAI

Sejumlah rekomendasi disampaikan Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) menyusul perhatian pemerintah yang kurang terhadap perikanan budidaya dibandingkan dengan perikanan tangkap.
Sri Mas Sari | 24 April 2017 14:56 WIB
Ilustrasi-Perikanan - Antara/Ampelsa

Bisnis.com, JAKARTA - Sejumlah rekomendasi disampaikan Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) menyusul perhatian pemerintah yang kurang terhadap perikanan budidaya dibandingkan dengan perikanan tangkap.

Ketua Umum MAI Rokhmin Dahuri menilai pemerintah belum berpihak kepada pengembangan budidaya perikanan nasional. Kementerian Kelautan dan Perikanan dan beberapa kementerian terkait belum melaksanakan Instruksi Presiden No 7/2016 dan Peraturan Presiden No 3/2017 yang memerintahkan percepatan industrialisasi perikanan nasional, termasuk perikanan budidaya.

"Potensi akuakultur sangat besar, tetapi belum dimanfaatkan secara optimal," katanya dalam keterangan resmi tentang hasil rapat kerja nasional MAI, Senin (24/4/2017).

Padahal, lanjut dia, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia yang 75% luas wilayahnya berupa laut dan sekitar 30% dari luas wilayah daratnya berupa ekosistem perairan, seperti danau, sungai, waduk, dan perairan rawa, Indonesia memiliki potensi produksi perikanan budidaya terbesar di dunia, yakni sekitar 100 juta ton per tahun.

Potensi produksi akuakultur itu berasal dari usaha perikanan budidaya di perairan laut (marikultur) seluas 24 juta hektare, di perairan payau (tambak) seluas 3 juta ha, dan di perairan tawar (sungai, danau, waduk, saluran irigasi, kolam air tawar, dan minapadi) 3 juta ha.

Total potensi ekonomi yang bisa dikembangkan dari usaha akuakultur diperkirakan US$200 miliar per tahun atau hampir sama dengan APBN 2017 dan diestimasi menyerap 30 juta orang tenaga kerja on farm. Belum lagi potensi lapangan kerja off farm, seperti yang bisa bekerja di industri hulu akuakultur (pembenihan, pabrik pakan, kincir air tambak, dan sarana produksi akuakultur lain), dan di industri hilir, seperti pabrik pengolahan dan pengemasan.

Namun, tingkat pemanfaatan sumber daya akuakultur di Indonesia masih sangat rendah. Meskipun sejak 2012 Indonesia menjadi produsen akuakultur terbesar kedua di dunia setelah China, hingga 2016 total produksi akuakultur Indonesia hanya 15,7 juta ton atau 16% dari potensi produksi. Itu pun 10 juta ton di antaranya berupa rumput laut (karaginan dan agar-agar) atau hanya 5,7 juta ton yang berupa ikan, krustasea, dan moluska.

MAI juga mendesak agar pemerintah memperbesar alokasi anggaran untuk mendukung sektor perikanan budidaya nasional. Anggaran itu diharapkan fokus kepada pembangunan fasilitas pendukung dan infrastruktur budidaya, khususnya jalan, jembatan, irigasi dan listrik.

Tag : perikanan
Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top