Pemerintah Diminta Tinjau Kelayakan Bus Pariwisata

Pemerintah diminta melakukan peninjauan tata kelola bus pariwisata untuk mencegah kecelakaan pada libur panjang.
Newswire | 25 April 2017 20:11 WIB
Ilustrasi - Antara

Bisnis.com, JAKARTA – Pemerintah diminta melakukan peninjauan tata kelola bus pariwisata untuk mencegah kecelakaan pada libur panjang.
 
Pengamat transportasi dari Universitas Soegijapranata, Semarang, Djoko Setijowarno mengatakan selama ini Undang-Undang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Nomor 22/2009 cenderung menyalahkan pengemudi jika terjadi kecelakaan.
 
Padahal menurutnya masih ada peran pengusaha dan pemerintah dalam hal ini pemerintah daerah yang harus mengawasi. Dia pun mengusulkan revisi atas UU tersebut.
 
“Pengawasan pemerintah terhadap bus pariwisata perlu diperketat lagi. Tata kelola bus wisata perlu ditinjau ulang,” jelas Djoko kepada Bisnis, Selasa (25/4/2017).
 
Dia menjelaskan bahwa setiap perusahaan angkutan umum wajib mematuhi dan memberlakukan ketentuan waktu kerja, waktu istirahat, dan pergantian pengemudi kendaraan bermotor unum.
 
Waktu kerja pengemudi kendaraan bermotor umum paling lama 8 jam sehari. Pengemudi kendaraan umum setelah mengemudi kendaraan selama 4 jam berturut-turut wajib beristirahat paking singkat setengah jam. Hal ini tercantum pada Pasal 90 dalam UU Nomor 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.
 
“Hal ini terkadang tidak berlaku di bus pariwisata karena dianggap supir bisa istirahat saat pelancong kunjungi obyek wisata,” ungkap Djoko.
 
Di sisi lain, masyarakat juga cenderung memilih bus pawisata yang murah namun mengabaikan aspek penting seperti kelayakkan kendaraan. Hal ini sesungguhnya mengancam keselamatan jiwa penumpang. Oleh sebab itu konsumen wajib menanyakan surat terkait perijinan dan aspek keselamatan.
 
“Pengusaha wajib menjelaskan tentang hal itu jika ditanya oleh konsumen,” tambahnya.
 
Pasalnya, ada beberapa pengusaha bus pariwisata menggunakan bekas bus reguler untuk bus pariwisata. Cuma cashing yang diubah seolah seperi bus baru, sementara kondisi dalam tidak berubah.
 
Praktek usaha bus pariwisata seperti ini mendorong pemerintah perlu melakukan tindakan sweping ke beberapa operator bus pariwisata yang dicurigai bermasalah. Jika terbukti melanggar, pemerintah bisa mencabut izin usaha.
 
“Ramp check untuk bus umum reguler bertrayek, terutama bus AKAP kini sudah rutin dilakukan setiap pemberangkatan bus di Terminal Tipe A. Dapat dikatakan, kondisi bus AKAP lebih baik sejak diberlakukan ramp check di Terminal Tipe A sejak Januari 2017. Saat ini sudah 97 dari 143 terminal tipe A yang diserahkan ke Kemenhub,” jelasnya.
 
Sementara itu, kinerja PT Destinasi Tirta Nusantara Tbk dengan merek dagang Panorama Destination dan Asia World Indonesia mencatatkan tamu wisman sebesar 150.000 orang atau naik 30% dibanding 2015 yang hanya sebesar 115.000 orang. Kenaikan ini berimbas pada kenaikan pendapatan sebesar Rp503 miliar atau naik 50% dibanding 2015 yang hanya sebesar Rp334 miliar.
 
Renato Domini, Direktur Utama dan CEO PT Destinasi tirta Nusantara Tbk mengatakan sebagai market leader Destination Management Company di Indonesia, pihaknya selalu berusaha menangkap peluang kedatangan wisman dari mancanegara.
 
“Apalagi dukungan pemerintah yang besar kepada sektor pariwisata menjadi angin segar bagi kami, dan secara optimis kami yakin target 2017 dapat dicapai dengan kerja keras dan terus membaca peluang pasar” papar Renato Domini melalui siaran pers.
 
Hingga akhir Kuartal IV 2016, perseroan yang merupakan pilar bisnis inbound dari PT Panorama Sentrawisata Tbk mampu mencatat laba bersih dengan peningkatan sebesar 181% atau senilai 25,6 miliar sepanjang tahun 2016. EBITDA Perseroan hingga akhir Kuartal IV 2016 mencapai Rp 84,13 miliar, naik sebesar 89,6% dibanding tahun 2015.
 
Perseroan berhasil menerapkan strategi bisnis untuk memperpanjang masa tinggal para tamu wisman di Indonesia dengan menghadirkan pesawat carter dari Warsawa, Polandia menuju Denpasar, Bali; melakukan pengembangan pasar Tiongkok; optimalisasi ICT atau digital sebagai saluran distribusinya. Selain itu perseroan juga melakukan penambahan armada bus menjadi hampir 300 kendaraan untuk melayani wisman yang berkunjung ke Indonesia.
 
Sejalan dengan target pemerintah untuk mendatangkan wisman sebanyak 15 juta orang, perseroan mentargetkan pertumbuhan pendapatan sebesar 20% pada 2017 dengan target wisatawan 180.000 orang. Adapun fokus utama yaitu membuka pasar baru serta menjual destinasi wisata baru di Indonesia.
 
Selain itu, dikarenakan karakteristik tamu wisman, khususnya dari Eropa, yang berkunjung ke kawasan Asia Tenggara, termasuk dalam kategori turis long-haul dan senang berkunjung ke beberapa negara sekaligus di kawasan Asia Tenggara maka pada Kuartal III tahun 2017, perseroan berencana untuk membuka kantor regional pertamanya di Thailand.
 
Dengan adanya ekspansi ini, perseroan mengharapkan terjadinya cross-selling antara kedua kantor di Indonesia dan Thailand serta meningkatkan daya saing Perseroan sebagai Regional Destination Management Company atau DMC.

Tag : kecelakaan bus
Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top