Startup Canggih Tidak Terlalu Menarik Buat Investor, Lalu Apa?

Salah satu karakter startup yang ideal adalah startup tersebut berpotensi menimbulkan gangguan pada bisnis konvesional di Tanah Air
Agne Yasa | 27 April 2017 17:08 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Investor menilai kecanggihan teknologi bukan segalanya dalam menentukan startup yang layak jadi sasaran investasi. Potensi lebih besar ada pada startup yang berpotensi menggoncang bisnis konvesional mapan di Indonesia.

Bendahara AMVESINDO Edward Chamdani mengatakan banyak dana dari luar seperti investor Jepang, Eropa, dan Amerika Serikat yang berminat masuk ke Indonesia. 

"AMVESINDO sebagai alternatif yang baru alternatif pembiayaan dengan modal ventura yang menyalurkan ke startup," katanya. 

Dia menambahkan kemunculan ratusan startup di Indonesia mengharuskan investor cerdas dalam memilih sasaran investasi.

Startup yang memiliki teknologi canggih tidak selalu menjadi startup dengan potensi paling besar, apalagi startup yang memberikan solusi bagi bisnis yang infrastrukturnya tidak tersedia di Tanah AIr.

Salah satu karakter startup yang ideal adalah startup tersebut berpotensi menimbulkan gangguan pada bisnis konvesional yang mapan. "Startup yang dapat mengonversi bisnis konvensional ke bisnis online. Mereka yang disruptif," ujar Edward. 

Wakil Ketua II Asosiasi Modal Ventura untuk Startup Indonesia (AMVESINDO) Donald Wihardja mengatakan perkembangan teknologi dan inovasi membuat UMKM berkembang lewat platform digital dari startup, namun persoalan permodalan atau pembiayaan masih menjadi tantangan.

"Penggunaan teknologi digital untuk UMKM ini sungguh merakyat dan membantu jutaan kinerja UMKM dan nilainya besar meskipun penetrasi e-commerce juga disebut masih kecil," ujarnya. 

Peluang-peluang yang dilihat oleh startup untuk menggaet UMKM ataupun masyarakat membuat startup ini berkembang.  

Donald mengatakan e-commerce sangat memeratakan akses apa yang bisa dibeli dan barang-barang, dengan cara yang lebih murah. 

"Sisi investasi di startup dan SME, sebuah spektrum yang panjang, ada kebutuhan US$160 miliar kebutuhan pemodalan dari UMKM," katanya. 

Dia menambahkan organisasi yang berada di bawah OJK juga diminta merangkul startup termasuk fintech yang berkembang. 

"Indonesia sangat membutuhkan investasi, untuk 1.000 startup di mana ada 200 yang akan menerima permodalan, dananya butuh miliaran, untuk satu startup saja butuh ratusan juta dolar," katanya. 

Dia mengatakan AMVESINDO juga mendorong modal ventura sebagai alternatif pembiayaan dan startup ini untuk berkembang.

"Masih jauh perjalanan dan teknologi adalah kunci yang bisa digunakan untuk melompat jauh lebih maju," kata Donald.

 

Tag : StartUp
Editor : Demis Rizky Gosta

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top