Ini 3 Cara Mudah Akses Energi Ke Masyarakat

Pemerintah menggencarkan tiga cara untuk mempermudah akses energi kepada masyarakat.
Duwi Setiya Ariyanti | 29 April 2017 04:54 WIB

Bisnis.com, JAKARTA--Pemerintah menggencarkan tiga cara untuk mempermudah akses energi kepada masyarakat.

Dikutip dari laman resmi Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Jumat (28/4/2017), Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi IGN Wiratmaja Puja mengatakan terdapat tiga cara yang sedang ditempuh untuk mempermudah akses energi bagi masyarakat. Pertama, melalui kebijakan satu harga bahan bakar minyak (BBM).

Secara bertahap, daerah-daerah terdepan, terpencil dan terluar yang selama ini menanggung harga BBM yang lebih mahal bisa merasakan harga BBM yang sama. Biaya transportasi yang selama ini membuat harga jual BBM mahal, tak lagi ditanggung konsumen.

Melalui Peraturan Menteri (Permen) ESDM No. 36/2016 tentang Percepatan Pemberlakuan Satu Harga Jenis BBM Tertentu dan Jenis BBM Khusus Penugasan Secara Nasional, badan usaha penyalur diharuskan menambah titik penyaluran agar distribusi BBM jenis premium dan solar lebih lancar.

Rencananya, kebijakan BBM satu harga yaitu pembangunan sekitar 150 lembaga penyalur hingga tahun 2019. Untuk tahun 2017 ditargetkan terdapat 54 lembaga penyalur yang selesai dibangun. Dari target tersebut, saat ini telah beroperasi 10 penyalur yaitu di Provinsi Sumatera Utara (Kab.Nias Selatan), Sumatera Barat (Kab.Kepulauan Mentawai), Jawa Tengah (Kab.Jepara), Jawa Timur (Kab.Sumenep), Nusa Tenggara Barat (Kab.Sumbawa), Nusa Tenggara Timur (Kab.Sumba Timur), Sulawesi Tenggara (Kab.Wakatobi), Kalimantan Timur (Kab.Mahakam Hulu), Papua Barat (Kab.Sorong Selatan) dan Maluku Utara (Kab.Pulau Morotai).

Dengan demikian, harga BBM di beberapa daerah dijual Rp6.450 per liter untuk premium dan solar Rp5.150 per liter. Adapun, PT Pertamina (Persero) dan PT AKR Corporindo, Tbk telah mendapat penugasan untuk melibatkan peran swasta membangun stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) maupun agen penyalur minyak solar (APMS).

"Yang daerahnya jauh dari SPBU seperti yang jaraknya 60 km atau 100 km, diusulkan ke kami dan nantinya akan dibangun SPBU. Kalau daerahnya kecil, dibangun APMS," katanya.

Kedua, pemerintah juga membagikan paket konverter kit untuk nelayan yang terdiri dari mesin untuk kapal, konverter kit dan liquefied petroleum gas (LPG) ukuran 3 kg. Tujuannya, untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan kecil yang memiliki kapal di bawah 5 GT yang berbahan bakar bensin atau solar dan kapal yang digunakan memiliki daya mesin di bawah 13 Horse Power (HP).

Dengan program ini, nelayan dapat menghemat sekitar Rp50.000 atau lebih dari Rp1 juta setiap bulannya.

Adapun, program pembagian konverter kit untuk nelayan dilakukan sejak 2016. Pada tahun itu, sebanyak 5.400 paket konverter kit dibagikan kepada nelayan di beberapa kabupaten/kota, antara lain Cirebon, Cilacap, Tuban dan Karang Asem Bali. Sementara itu, di 2017, akan dibagikan 24.000 paket untuk nelayan yang tersebar di 17 kabupaten/kota.

Fokus sebaran di tahun ini, akan menyentuh daerah pesisir Jawa, Kalimantan dan Sumatera dan Sulawesi. Sementara untuk daerah Maluku dan Papua, belum dapat dilakukan karena infrastruktur LPG yang masih terbatas.

“Semua nelayan kecil akan kita identifikasi supaya mudah dapat energi," katanya.

Terakhir, pemerintah menambah sambungan pipa gas rumah tangga. Penggunaan gas bagi rumah tangga akan menekan angka konsumsi LPG. Utamanya, LPG ukuran 3 LPG yang masih disubsidi.

Pembangunan jargas diprioritaskan bagi daerah yang memiliki sumber gas atau dekat dengan sumber gas. Tercatat, sejak tahun 2009 sampai dengan tahun 2016 telah terbangun jaringan gas 185.991 Sambungan Rumah (SR) di 14 Provinsi meliputi 26 kabupaten/kota.

Pada 2017, melalui penugasan kepada PT Pertamina (Persero) dan PT PGN (Persero) Tbk akan melaksanakan pembangunan jaringan gas bumi untuk rumah tangga di 10 Kabupaten/Kota yaitu: Kota Pekanbaru, Musi Banyuasin, Kabupaten PALI, Kabupaten Muara Enim, Kota Bandar Lampung, DKI Jakarta, Kabupaten Mojokerto, Kota Mojokerto, Kota Samarinda dan Kota Bontang.

Dengan penggunaan gas dari jaringan pipa gas rumah tangga, tiap bulannya, rata-rata tiap rumah tangga hanya perlu membayar Rp30.000 hingga Rp35.000. Angka ini, lebih murah daripada biaya yang dikeluarkan untuk membeli LPG 3 kg yang pemakaiannya sekitar 3-4 tabung per bulan.

“Beberapa daerah yang punya gas, kami prioritaskan untuk dibangun jargas," katanya.

Tag : esdm
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top