Jempol B.J. Habibie untuk Ketua BP Batam Hatanto Reksodipoetro

Presiden Indonesia ke-3 B.J. Habibie langsung mengangkat jempolnya ketika ditanyakan kondisi Batam saat ini. Sebagai orang pertama yang menjadi Kepala Badan Otorita Batam pada 1971, selama tiga hari ia punya agenda padat di sini.
Lahyanto Nadie | 29 April 2017 14:05 WIB
Presiden RI ke-3 BJ Habibie - JIBI

Bisnis.com, BATAM - Presiden Indonesia ke-3 B.J. Habibie langsung mengangkat jempolnya ketika ditanyakan kondisi Batam saat ini. Sebagai orang pertama yang menjadi Kepala Badan Otorita Batam pada 1971, selama tiga hari ia punya agenda padat di sini.

"Back to basic. Pimpinan BP Batam sekarang begini," katanya sambil mengangkat jempolnya tinggi-tinggi, menjawab pertanyaan Bisnis.com di restoran Nogosaya, Turi Beach Resort, Nongsa, Batam (Jumat, 28/4/2017).

Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam Hatanto Reksodipoetro yang didampingi oleh Deputi Bidang Pelayanan Umum Gusmardi Bustami hanya tersenyum mendapat pujian itu. Ia menjelaskan permasalahan yang dihadapi Batam saat ini, solusinya, hingga perkembangan signifikan selama setahun kepemimpinannya.

Back to basic yang dimaksudkan Habibie adalah untuk memajukan Batam, harus kembali kepada cita-cita awal yaitu menjadikannya sebagai tulang punggung pembangunan nasional. "Jika kiprah pimpinan yang bagus seperti ini, saya yakin lima tahun lagi Batam makin berkembang."

Sekarang saja, katanya, sudah menjadi kawasan free trade zone dengan berbagai industri pengolahan di dalamnya.

Suami dari (almh) dr. Ainun mengenang masa lalunya ketika pertamakali memimpin Batam. Awalnya Batam hanyalah pulau kosong yang dihuni oleh kancil dan nelayan bugis. "Di pesisir pantai itu hanya ada nelayan, orang bugis dan mereka berontak saat pengembangan Batam," kata ayah dari Ilham Akbar dan Thareq Kemal itu.

Habibie juga memiliki darah Bugis dari ayahnya dan darah Jawa dari ibunya. "Persoalan nelayan Bugis itu bisa diselesaikan dengan pendekatan kultural," katanya disambut gelak tawa pejabat BP Batam dan pengusaha.

Habibie yang mendapat tugas dari Presiden Soeharto bercita-cita Batam menjadi wilayah pengembangan industri termaju di Indonesia. Targetnya tentu mengalahkan Singapura mengingat lokasinya sangat strategis untuk industri dan perdagangan internasional.

Makanya ketika pertama kali menginjakkan kakinya di Batam melanjutkan program Pertamina pimpinan Ibnu Sutowo, yang ketika itu hanya menjadi lokasi logistik penyimpanan pipa untuk kebutuhan perminyakan, ia langsung mengubah program yang diputuskan melalui Keppres.

"Waktu itu, saya belum tahu di mana Pulau Batam. Eh ketika datang dan dikawal oleh Jenderal LB Moerdani, baru ada satu jalan di Sikupa dan saya tinggal di situ," kenangnya.

Setelah mencermati potensi Batam, ia kemudian melaporkan kepada Presiden Soeharto bahwa Batam harus sama dengan Singapura. Itulah sebabnya ia membuat jembatan Barelang sehingga luas kawasannya lebih besar dari negeri jiran itu.

Jembatan Barelang adalah singkatan dari Batam, Rempang, dan Galang yang yang menghubungkan pulau-pulau yaitu Pulau Batam, Pulau Tonton, Pulau Nipah, Pulau Rempang, Pulau Galang dan Pulau Galang Baru.

Masyarakat setempat ada juga yang menyebutnya 'Jembatan Habibie', karena dia yang memprakarsai pembangunan jembatan itu untuk menfasilitasi ketiga pulau tersebut yang dirancang untuk dikembangkan menjadi wilayah industri di Kepulauan Riau.

Selama di Batam, Habibie juga dialog dengan pengusaha lokal, meresmikan pembangunan Rumah Sakit Internasional dr. Hasri Ainun Habibie dan mengunjungi Infinite Framework Studio milik pengusaha Kris Wiluan. Ratusan animator muda berdesakan foto bersama Habibie yang masih tampak energetik itu.

Tag : batam, bj habibie
Editor : Lahyanto Nadie

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top