Perang Tarif Buat Industri Telekomunikasi Tidak Sehat

Perang tarif yang dewasa ini seringkali dilakukan oleh sejumlah industri telekomunikasi Tanah Air dinilai akan membuat kondisi industri tersebut semakin terpuruk dan persaingan menjadi tidak akan sehat.
Sholahuddin Al Ayyubi | 15 Mei 2017 20:53 WIB
Ilustrasi - Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA — Perang tarif yang dewasa ini seringkali dilakukan oleh sejumlah industri telekomunikasi Tanah Air dinilai akan membuat kondisi industri tersebut semakin terpuruk dan persaingan menjadi tidak akan sehat.

Leonardo Henry Gavaza CFA, Analis Saham PT Bahana Securities mengemukakan tarif yang telah ditawarkan oleh operator Indosat Ooredoo yaitu tarif telepon sekitar Rp 1 per detik secara nasional dinilai akan membuat persaingan industri tersebut tidak sehat. Menurutnya, jika operator tersebut terus melakukan perang harga seperti saat ini, Leo memastikan profitabilitas perseroan akan semakin terpuruk.

“Jika profitabilitas terganggu dipastikan akan berdampak serius kepada revenue dan net profit. Revenue dan net profit perseroan akan kembali terseok-seok. Terlebih lagi tarif data yang dijual oleh operator saat ini sudah terbilang sangat murah,” tuturnya di Jakarta, Senin (15/5/2017).

Menurutnya, jika operator Telkomsel terpancing untuk menurunkan tarifnya kemungkinan Indosat dan XL bisa mati. Leo menjelaskan, jika Indosat dan XL mati maka dominasi Telkomsel akan semakin kuat di Indonesia.

Leo mengatakan dalam jangka pendek perang harga seolah-olah akan menguntungkan konsumen karena akan mendapatkan tarif yang murah. Selain itu menurutnya, rapor management kepada pemegang saham juga diprediksi akan semakin bagus karena meningkatnya jumlah market share.

“Namun jangka panjang akan merusak industri telekomunikasi. Tak menutup kemungkinan pesaing Indosat juga akan melakukan hal yang sama. Jika ini sampai terjadi maka margin keuntungan akan tergerus dan industri telekomunikasi yang tahun lalu bisa tumbuh 10% kemungkinan tahun ini tak akan tercapai. Bahkan bisa mengalami minus,“ katanya.

Menurutnya, keberanian Indosat dalam menerapkan tarif telpon Rp 1 perdetik antar operator tersebut lantaran margin keuntungan anak usaha Ooredoo itu pada kuartal pertama tahun 2017 mengalami kenaikan. Dia menjelaskan, dengan naiknya margin keuntungan tersebut, Indosat memiliki celah untuk melakukan perang harga.

Seperti diketahui bersama, tarif Rp 1 per detik antar operator yang diberlakukan sejak pekan lalu merupakan tarif subsidi atau promosi yang diberikan Indosat untuk mendapatkan calon konsumen yang berasal dari operator lain. Seharusnya untuk menyelenggarakan jasa telekomunikasi antar operator, minimal Indosat harus mengeluarkan biaya Rp250 per menit sebagai biaya interkoneksi, belum ditambah dengan biaya penyelenggaraan jaringan, operasional dan marketing Indosat.

Dari data yang dikeluarkan oleh JP Morgan kualitas jaringan yang dimiliki oleh operator yang kerap melakukan perang tarif akan mengalami penurunan. Contohnya saja Indosat. Jika bulan Mei hingga Juni 2016 yang lalu kecepatan unduh 4G Indosat mencapai 8,35 Mbps, namun di periode November 2016 hingga Januari 2017 kecepatannya tinggal 2,78 Mbps. Pada periode Januari 2017 hingga Maret 2017 kecepatan unduh jaringan 4G Indosat juga tak mengalami perbaikkan. Kecepatannya tidak beranjak dari 2.78 Mbps dengan availability 65%.

Kualitas yang diberikan oleh XL Axiata juga menggalami penurunan. Jika bulan Mei hingga Juni 2016 yang lalu kecepatan unduh 4G XL mencapai 10.02, periode November 2016 hingga Januari 2017 kecepatannya unduh 4G LTE XL masih 5,76 Mbps. Pada periode Januari 2017 hingga Maret 2017 kecepatan unduh jaringan 4G XL tinggal 5.76 Mbps dengan availability 67.35%.

Leo menjelaskan berdasarkan data tersebut, telah dibuktikan bahwa operator telekomunikasi yang melakukan perang tarif dalam jangka panjang tidak akan mampu menjaga kualitas layanan yang akan diberikan kepada konsumennya.

“Pada akhirnya yang akan dirugikan adalah konsumen dan industri telekomunikasi nasional,” ujarnya.

Tag : industri telekomunikasi
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top