KKP Dorong Kreativitas dan Inovasi Ketahanan Pangan

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus mendorong kreativitas dan inovasi dalam menggiatkan peran yang lebih besar dalam rangka menopang ketahanan pangan nasional berbasis ikan.
Newswire | 19 Mei 2017 04:10 WIB
Presiden Jokowi menabuh lesung saat membuka Konferensi Ketahanan Pangan di Jakarta - JIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA -  Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus mendorong kreativitas dan inovasi dalam menggiatkan peran yang lebih besar dalam rangka menopang ketahanan pangan nasional berbasis ikan.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP Slamet Soebjakto mengingatkan pihaknya memproyeksikan sampai dengan  2019 tingkat konsumsi ikan sebesar lebih dari 50 kg per kapita per tahun.

Menurut dia dengan target itu setidaknya dibutuhkan suplai ikan sebanyak 14,6 juta ton per tahun, di mana diprediksi sekitar 60% akan bergantung pada hasil produksi budidaya.

"Untuk mencukupi kebutuhan pangan nasional yang semakin tinggi, maka langkah utama yang perlu dilakukan adalah melalui intensifikasi teknologi yang efektif dan efisien," paparnya di Jakarta, Kamis (17/5/2017).

Slamet menggarisbawahi bahwa saat ini upaya mewujudkan ketahanan pangan mau tidak mau harus dihadapkan langsung dengan fenomena perubahan iklim global.

Di sisi lain, lanjutnya perkembangan sektor industri dan ledakan jumlah penduduk juga turut memberikan kontribusi dalam mereduksi lahan sektor yang berbasis pangan sehingga perlu diantisipasi, karena secara langsung akan berdampak pada penurunan suplai bahan pangan bagi masyarakat.

"Semua pelaku perikanan budidaya harus berkreasi mengedepankan Iptek dalam pengelolaan usaha budidaya ikan. Intinya dengan kondisi saat ini, produktivitas budidaya harus bisa dipacu dalam lahan terbatas dan dengan penggunaan sumber daya air yang efisien," kata Dirjen Perikanan Budidaya KKP.

Slamet mengungkapkan pihaknya telah berhasil mengembangkan inovasi teknologi budidaya lele sistem bioflok yang mampu mengenjot produktivitas lele yang tinggi, namun dengan penggunaan lahan yang tidak terlalu luas dan hemat sumber air.

Sebagai gambaran, teknologi ini merupakan bentuk rekayasa lingkungan yang mengandalkan suplai oksigen dan pemanfaatan mikroorganisme, yang secara langsung dapat meningkatkan nilai kecernaan pakan.

"Bioflok ini menjadi solusi untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, apalagi saat ini produk lele sangat memasyarakat sebagai sumber gizi yang digemari," ucap Slamet.

Sebagai perbandingan, untuk budidaya dengan sistem konvensional dengan padat tebar 100 ekor per meter kubik memerlukan 120-130 hari untuk panen, sedangkan untuk sistem bioflok dengan padat tebar 500-1000 ekor tiap meter kubik hanya membutuhkan 100-110 hari saja.

Sumber : ANTARA

Tag : kkp, ketahanan pangan
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top