Ban Impor Sulit Dicari

Pelaku bisnis mengeluh kelangkaan ban impor untuk kendaraan di sejumlah sektor, termasuk pertambangan dan perkebunan
Regi Yanuar Widhia Dinnata | 23 Mei 2017 17:27 WIB
tambang

Bisnis.com, JAKARTA—Pelaku bisnis mengeluh kelangkaan ban impor untuk kendaraan di sejumlah sektor, termasuk pertambangan dan perkebunan.

Rudy Josano, Bendahara Gabungan Importir dan Pedagang Ban Indonesia (Gimpabi), mengatakan sejak kebijakan pemerintah yang tertuang dalam Permendag No 77//M-DAG//11/2016 mengenai pembatasan ban impor berlaku pada 1 Januari 2017, pelaku industri kesulitan mencari ban untuk pelabuhan, tambang, perkebunan, logistik, dan transportasi.

"Porsi ban impor hanya 10% dari total penjualan di Indonesia. Namun angka tersebut berpengaruh secara krusial di sektor industri strategis," ujar Rudy, Selasa (23/5/2017).

Mayoritas ban yang diimpor oleh Gimpabi tidak diproduksi di Indonesia. Hal ini berpengaruh terhadap segmen khusus yang membutuhkan ban bertipe radial, termasuk truk pengangkut beban.

"Kami tidak dilibatkan ketika perumusan kebijakan Permendag No 77//M-DAG//11/2016. Padahal kebijakan ini harusnya diambil dengan melihat kondisi riil di lapangan bahwa ada beberapa segmen membutuhkan ban bertipe khusus," sebutnya.

Rudy menambahkan bahwa ban impor bukan ancaman bagi produsen ban dalam negeri. Gimpabi berharap pemerintah melalui Kementerian Perdagangan dapat segera melakukan evaluasi terhadap Permendag yang sudah berlaku. "Kami ingin mendapatkan ruang dan perlakuan yang sama di antara pelaku usaha ban di Indonesia," tutup Rudy.

Pada kesempatan yang sama, Dinas Sebayang, Direktur Operasional PT Lancarjaya Mita Abadi (Elma Group). yang bergerak di bisnis pertambangan, menyebutkan perusahaan harus membeli ban dengna harga lebih mahal hingga 10%.

Dinas menyebutkan perusahaan peluang kerugian dapat meningkat jika ban terus sulit didapatkan. "Dalam sebulan kami membutuhkan 400 pcs ban untuk kendaraan khusus tambang. Sejak ban langka saya hanya bisa mendapatkan 300 pcs saja, padahal proses pertambangan harus terus jalan," kata Dinas.

Untuk mengatasi kelangkaan, perusahaan terpaksa melakukan rekondisi, termasuk dengan mengganti ban yang sudah tak layak dari truk yang satu ke ban yang lebih baik dari truk lainnya.

"Jika sampai akhir tahun kelangkaan ban terus terjadi maka akan beresiko tinggi dan berdampak pada kehidupan industri pertambangan. Hubungan antara ban dengan produksi itu linier, tanpa ada ban hasil pertambangan tidak bisa diangkut," ucapnya.

Tag : ban impor
Editor : Ratna Ariyanti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top