Trojan Mobile Faketoken Incar Pengguna Aplikasi Ride Sharing & Taksi

Para ahli Kaspersky Lab menemukan modifikasi terbaru dari Trojan mobile banking terkenal, Faketoken.
Agne Yasa | 20 Agustus 2017 22:16 WIB
Menurut Kaspersky Lab, Google berusaha keras meningkatkan keamanannya ke level yang lebih baik. - Reuters/Aly Song

Bisnis.com, JAKARTA - Para ahli Kaspersky Lab menemukan modifikasi terbaru dari Trojan mobile banking terkenal, Faketoken, yang berhasil dikembangkan dan sekarang mampu untuk mencuri kredensial dari aplikasi ride sharing populer.

Viktor Chebyshev, Pakar Keamanan di Kaspersky Lab mengatakan fakta bahwa penjahat siber telah memperluas aktivitas mereka dari aplikasi keuangan ke area lain, termasuk layanan taksi dan ridesharing, berarti pengembang layanan ini mungkin ingin lebih memperhatikan perlindungan penggunanya.

Dia menambahkan industri perbankan sudah terbiasa dengan skema penipuan dan trik, dan respons sebelumnya melibatkan implementasi teknologi keamanan di aplikasi yang secara signifikan mengurangi risiko pencurian data keuangan penting.

"Mungkin sekarang saatnya untuk layanan lain yang bekerja dengan data keuangan untuk mengikutinya,” katanya melalui rilis kepada Bisnis pada Minggu (20/8/2017).

Dia menjelaskan versi baru Faketoken kebanyakan menargetkan pengguna di Rusia. Namun, geografi serangan bisa dengan mudah diperluas lagi di masa depan. “Kami telah melihat hal itu dengan versi sebelumnya dari Faketoken dan malware perbankan lainnya di masa lalu.”

Pasar aplikasi mobile terus berkembang, dan menawarkan lebih banyak lagi layanan yang menyimpan data rahasia mengenai keuangan, diantaranya layanan taksi dan aplikasi ride sharing yang memerlukan informasi mengenai kartu perbankan milik pengguna.

Terinstal di jutaan perangkat Android di seluruh dunia telah membuat aplikasi ini menjadi sasaran menarik bagi penjahat siber, dengan cara memperluas fungsi malware mobile banking secara signifikan.

Versi baru Faketoken melakukan pelacakan secara aktif terhadap aplikasi dan ketika pengguna menjalankan aplikasi tertentu, menyamarkannya dengan celah phishing untuk mencuri rincian kartu perbankan milik korban.

Trojan memiliki antarmuka yang identik, dengan skema warna dan logo yang sama, sehingga menciptakan penyamaran instan dan tak terlihat adanya perbedaaan sama sekali. Namun, berdasarkan hasil penelitian Kaspersky Lab, para penjahat siber menargetkan layanan taksi dan rides sharing internasional paling populer dengan malware ini.

Selain itu, Trojan mencuri semua pesan SMS yang masuk dengan mengarahkan mereka ke server command and control (C&C), yang memungkinkan penjahat siber mendapatkan akses ke kata sandi verifikasi satu kali yang dikirim oleh bank, atau pesan lain yang dikirim oleh layanan taksi dan ride sharing.

Adapun modifikasi Faketoken ini bisa memantau panggilan pengguna, merekamnya, dan mengirimkan data ke server C&C.

Penyamaran adalah fungsi umum yang diaktifkan di banyak aplikasi mobile. Tahun lalu, Kaspersky melaporkan modifikasi Faketoken yang menyerang lebih dari 2.000 aplikasi keuangan di seluruh dunia.

Ini dilakukan dengan menyamarkan dirinya menjadi berbagai program dan permainan, seringnya meniru Adobe Flash Player. Sejak itu, Faketoken telah dikembangkan lebih jauh, dan telah memperluas geografi aksinya.

Para ahli juga mendeteksi serangan Faketoken pada aplikasi mobile populer lainnya, seperti aplikasi pemesanan tiket dan hotel, aplikasi untuk pembayaran denda tilang, Android Pay dan Google Play Market.

Sylvia Ng, General Manager Asia Tenggara Kaspersky Lab, mengatakan masalah keamanan di Android terus muncul secara reguler meski Google berusaha keras meningkatkan keamanannya ke level yang lebih baik.

"Pengembang juga terus meluncurkan versi terbaru dan lebih aman, namun pengadopsian dari versi aman tersebut masih tertinggal jauh," ujarnya

Untuk melindungi diri dari Trojan Faketoken dan ancaman malware Android lainnya, Kaspersky Lab sangat menganjurkan agar pengguna tidak menginstal aplikasi dari sumber yang tidak diketahui dan menggunakan solusi keamanan di perangkat.

Tag : virus komputer, trojan
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top