Korporasi Masih Kurang Awas Perkembangan Ancaman Siber

Perusahaan dituntut menetapkan prioritas dalam anggaran keamanan agar dapat membangun postur keamanan secara lebih efektif.
Agne Yasa | 14 September 2017 17:02 WIB
Ilustrasi seorang pria sedang mengetik kode siber. - Reuters/Kacper Pempe

Bisnis.com, JAKARTA — Digitalisasi mendorong perusahaan meningkatkan belanja teknologi informasi. Namun, mayoritas perusahaan belum mengalokasikan dana sesuai dengan perkembangan ancaman siber.

Laksana Budiwiyono, Sales Director Trend Micro Indonesia, mengatakan perusahaan dituntut segera menetapkan prioritas dalam anggaran keamanan agar dapat membangun postur keamanan secara lebih efektif. 

"Hal ini mempertimbangkan fakta biaya kerugian yang diderita akibat pembobolan keamanan sering kali jauh lebih besar nilainya bila dibandingkan anggaran yang bisa disediakan oleh perusahaan tersebut," katanya, Kamis (14/9/2017). 

Dia menambahkan tren serangan siber yang menyerang perusahaan-perusahaan di berbagai belahan dunia diprediksi akan terus berlanjut hingga akhir 2017.

"Hal ini menjadi salah satu alasan mulai meningkatnya pemahaman perusahaan bahwa keamanan digital bukan hanya upaya melindungi informasi, tetapi juga dipahami sebagai investasi bagi masa depan perusahaan" katanya. 

Sepanjang April—Juni 2017, serangan ransomware WannaCry dan Petya telah menyerang ribuan perusahaan di berbagai sektor industri secara global.

Kerugian yang diderita perusahaan seluruh dunia, termasuk akibat terganggunya produktivitas berikut biaya perbaikan dan pengendalian akibat kerusakan yang ditimbulkan, mencapai US$4 miliar. 

Data dari FBI kerugian dari Business Email Compromise (BEC) scams juga berkontribusi pada kerugian global hingga US$5,3 miliar sepanjang semester I/2017. 

Tag : keamanan siber
Editor : Demis Rizky Gosta

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top