Soal Trading Term Beras di Toko Modern, Ini Penjelasan Aprindo

Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Solihin menyatakan para peritel tidak mempersulit proses administrasi bagi para produsen atau pemasok beras.
Nurhadi Pratomo | 14 September 2017 21:59 WIB
Pekerja memegang beras Bulog kualitas super kemasan 5 kilogram di Gudang Bulog Serang, Banten, Selasa (16/5). - Antara/Asep Fathulrahman

Bisnis.com, JAKARTA- Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Solihin menyatakan para peritel tidak mempersulit proses administrasi bagi para produsen atau pemasok beras.

“Yang sulit itu kalau sudah ada pemasok dan pemasok baru produknya sama,” ujarnya saat dikonfirmasi Bisnis, Kamis (14/9).

Dia menjelaskan bahwa untuk produk lama sebagian besar telah diretur kepada distributor. Namun, sampai saat ini belum sepenuhnya kembali sesuai dengan ketentuan yang diberlakukan pemerintah

Sebelumnya, para produsen beras saat ini masih membahas perjanjian dagang baru atau trading term (syarat perdagangan) dengan para peritel modern. Akibatnya, gelontoran pasokan beras baru dengan harga yang sesuai dengan ketentuan harga eceran tertinggi (HET) menjadi tersendat.

Sukarto Bujung, Direktur Utama PT Buyung Poetra Sembada (BPS) Tbk menjelaskan saat ini pihaknya tengah membuat perjanjian dagang dengan ritel modern untuk mengikuti aturan HET. Oleh karena itu, beberapa peritel belum membuka purchasing order (PO) untuk produk beras.

Sukarto menjelaskan terdapat beberapa proses administrasi yang harus dilalui. Namun, pihaknya menyatakan mulai mengirim pasokan beras yang baru ke beberapa toko modern.

“Jadi [sebagian ritel modern] mereka belum bisa buka PO tetapi sebagian sudah bisa buka PO,” ujarnya saat dihubungi Bisnis, Kamis (14/9).

Dia mengungkapkan sejak diberlakukannya HET per September kemarin, harga beras produksi BPS langsung diturunkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Proses penurunan harga berlaku bagi stok lama yang ada di toko modern.

Sukarto mengatakan belum merubah kemasan beras yang diproduksi BPS. Proses desain ulang kemasan masih menunggu seluruh stok beras yang lama habis.

“Tunggu kemasan lama habis dulu [lalu merubah desain],” imbuhnya.

Seperti diketahui, Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 57 Tahun 2017 tentang Penetapan Harga Eceran Tertinggi Beras menetapkan harga untuk beras medium dan beras premium wilayah Jawa, Lampung, Sumatera Selatan, Bali, NusaTenggara Barat, dan Sulawesi ditetapkan sebesar Rp9.450 per kilogram (kg) dan Rp12.800 per kg.   Aturan tersebut berlaku baik di pasar tradisional maupun toko modern.

Pemerintah saat ini masih memberikan toleransi untuk menghabiskan stok beras yang lama dan melakukan penyesuaian terhadap sejumlah ketentuan yang tertuang dalam penetapan HET. Rencananya, evaluasi implementasi akan ditinjau langsung oleh Menteri Perdagangan pada pekan depan.

 

Tag : Harga Beras
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top