Implementasi HET: Penyesuaian Trading Term Beras, Kemendag Komentar Ini

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Tjahya Widayanti mengungkapkan pemerintah menyerahkan proses penyesuaian trading term beras di toko modern tersebut kepada peritel dan distributor.
Nurhadi Pratomo | 14 September 2017 19:40 WIB
Pedagang menyortir beras sebelum didistribusikan di Pasar Induk Cipinang Jakarta. - Bisnis/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA-  Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Tjahya Widayanti mengungkapkan pemerintah menyerahkan proses penyesuaian trading term beras di toko modern tersebut kepada peritel dan distributor.

Pihaknya hanya bisa memberikan imbauan kepada pelaku usaha untuk menurunkan marjin.

“Ini proses business to businnes [B2B] jadi [pemerintah] hanya bisa mengimbau,” jelasnya.

Menurut catatan Bisnis, peritel meminta margin sebesar 8% dari distributor untuk penjualan beras medium dan premium untuk menjaga keuntungan di tingkat toko modern.

Ketua Umum Aprindo Roy Nicholas Mandey mengatakan telah meminta kepada distributor agar memasok beras dengan harga 8% lebih rendah dari ketetapan HET beras yang diketok oleh pemerintah.

Proses tersebut dibahas secara B2B antara peritel dan distribtor. Dengan demikian, kedua pihak dapat mengikuti ketentuan yang berlaku.

Seperti diketahui, Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 57 Tahun 2017 tentang Penetapan Harga Eceran Tertinggi Beras menetapkan harga untuk beras medium dan beras premium wilayah Jawa, Lampung, Sumatera Selatan, Bali, NusaTenggara Barat, dan Sulawesi ditetapkan sebesar Rp9.450 per kilogram (kg) dan Rp12.800 per kg.   Aturan tersebut berlaku baik di pasar tradisional maupun toko modern.

Pemerintah saat ini masih memberikan toleransi untuk menghabiskan stok beras yang lama dan melakukan penyesuaian terhadap sejumlah ketentuan yang tertuang dalam penetapan HET. Rencananya, evaluasi implementasi akan ditinjau langsung oleh Menteri Perdagangan pada pekan depan.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Solihin menyatakan para peritel tidak mempersulit proses administrasi bagi para produsen atau pemasok beras.

“Yang sulit itu kalau sudah ada pemasok dan pemasok baru produknya sama,” ujarnya saat dikonfirmasi Bisnis, Kamis (14/9).

Dia menjelaskan bahwa untuk produk lama sebagian besar telah diretur kepada distributor. Namun, sampai saat ini belum sepenuhnya kembali sesuai dengan ketentuan yang diberlakukan pemerintah

Sebelumnya, para produsen beras saat ini masih membahas perjanjian dagang baru atau trading term (syarat perdagangan) dengan para peritel modern. Akibatnya, gelontoran pasokan beras baru dengan harga yang sesuai dengan ketentuan harga eceran tertinggi (HET) menjadi tersendat.

Sukarto Bujung, Direktur Utama PT Buyung Poetra Sembada (BPS) Tbk menjelaskan saat ini pihaknya tengah membuat perjanjian dagang dengan ritel modern untuk mengikuti aturan HET. Oleh karena itu, beberapa peritel belum membuka purchasing order (PO) untuk produk beras.

Sukarto menjelaskan terdapat beberapa proses administrasi yang harus dilalui. Namun, pihaknya menyatakan mulai mengirim pasokan beras yang baru ke beberapa toko modern.

“Jadi [sebagian ritel modern] mereka belum bisa buka PO tetapi sebagian sudah bisa buka PO,” ujarnya saat dihubungi Bisnis, Kamis (14/9).

Dia mengungkapkan sejak diberlakukannya HET per September kemarin, harga beras produksi BPS langsung diturunkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Proses penurunan harga berlaku bagi stok lama yang ada di toko modern.

Sukarto mengatakan belum merubah kemasan beras yang diproduksi BPS. Proses desain ulang kemasan masih menunggu seluruh stok beras yang lama habis.

“Tunggu kemasan lama habis dulu [lalu merubah desain],” imbuhnya.

Tag : Harga Beras
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top