Industri Baja : Dukungan Pemerintah Diperlukan untuk Tarik Investor

Untuk menarik investasi di industri baja dalam negeri, pemerintah diminta memberikan beberapa dukungan terhadap sektor ini
Annisa Sulistyo Rini | 14 September 2017 20:45 WIB
Plat Baja - jayaparisteel.co.id

Bisnis.com, JAKARTA--Untuk menarik investasi di industri baja dalam negeri, pemerintah diminta memberikan beberapa dukungan terhadap sektor ini.

Hidayat Triseputro, Direktur Eksekutif Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia (The Indonesian Iron and Steel Association/IISIA), mengatakan salah satu dukungan pemerintah yang ditunggu adalah penyelesaian masalah impor baja.

"Kami harap pemerintah untuk melakukan pengetatan impor dari produk baja unfair, circumvention, pelarian HS nomor, dan non SNI," ujarnya kepada Bisnis.com, Kamis (14/9/2017).

Saat ini, kapasitas produksi pabrikan baja dalam negeri memang belum mampu memenuhi permintaan. Hanya saja, dalam praktiknya banyak importir yang memanfaatkan pelarian HS number (kode kepabeanan).

Importir baja memanfaatkan bebas pengenaan bea masuk baja paduan untuk mengimpor baja karbon.

Penindakan tegas juga diperlukan terhadap produk baja non SNI yang beredar di pasar. Selanjutnya, harmonisasi tarif dari hulu ke hilir juga dinanti. Pasalnya, pengenaan tarif yang hanya ditujukan kepada produk hulu membuat pasar domestik dipenuhi produk hilir impor.

"Komitmen penerapan TKDN untuk proyek pemerintah dan regulasi bahan baku peleburan baja harus dimatangkan," ujarnya.

Dari sisi produksi, baja dalam negeri masih dibebani oleh harga gas dan ongkos logistik yang belum kompetitif, sehingga harganya pun masih kalah saing dengan produk impor yang lebih murah.

Lebih lanjut, Hidayat menuturkan regulasi kriteria investasi juga belum tersedia. Padahal, regulasi ini dibutuhkan untuk mengerem teknologi baja yang sudah obsolete dan tidak ramah lingkungan.

"Insentif fiskal juga diperlukan untuk menarik investor," katanya.

Sebelumnya, Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kemenperin I Gusti Putu Suryawirawan mengatakan industri baja Indonesia masih menjanjikan bagi investor melihat kebutuhan dalam negeri yang masih besar.

Kementerian Perindustrian mencatat pada tahun lalu kebutuhan baja nasional sebesar 12,94 juta ton. Produksi dalam negeri hanya mampu memenuhi 6,79 juta ton, sisanya berasal dari luar negeri.

"Investasi industri baja Indonesia masih menjanjikan, apalagi pemerintah sedang fokus dalam pembangunan infrastruktur," ujarnya.

Putu menuturkan pemerintah mengalokasikan Rp455 triliun untuk pembangunan infrastruktur pada tahun depan atau naik 17,36% dari alokasi tahun ini. Sektor konstruksi mendominasi konsumsi baja nasional sebesar 78% dari total konsumsi, diikuti sektor otomotif sebesar 8%, sektor migas sebesar 7%, dan sisanya oleh industri lainnya.

Saat ini, Indonesia menjadi pengimpor baja nomor empat di dunia. Dalam Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN), pemerintah menargetkan kapasitas produksi crude steel nasional mencapai 12 juta ton per tahun pada 2019 yang kemudian meningkat menjadi 17 juta ton per tahun pada 2024. Pada 2035 kapasitas produksi ditargetkan sebesar 25 juta ton per tahun.

Tag : industri baja
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top