Pertumbuhan Penggunaan Mobil Listrik Dipengaruhi Tiga Hal Ini

Pemerintah sedang menggerakkan pertumbuhan penggunaan mobil listrik di Indonesia terutama dengan naskah Peraturan Presiden yang hingga kini masih dibahas.
Duwi Setiya Ariyanti | 14 September 2017 13:30 WIB
Kendaraan listrik sedang mengisi tenaga. - IEA

Bisnis.com, JAKARTA--Pemerintah menggerakkan pertumbuhan penggunaan mobil listrik di Indonesia terutama dengan naskah Peraturan Presiden yang hingga kini masih dibahas. Adapun, terdapat tiga hal yang mempengaruhi pertumbuhan penggunaan mobil listrik.

Group Chief Economist BP, Spencer Dale mengatakan tak ada yang bisa memperkirakan secara pasti berapa jumlah mobil listrik yang akan beredar pada 20 tahun mendatang.

Pastinya, jumlah mobil diprediksi akan bertambah dua kali lipat dalam 20 tahun karena kontribusi negara berkembang. Dengan demikian, bila saat ini

"Bila jumlah kendaraan naik dua kali lipat, bagaimana dengan jumlah mobil listrik? Sejujurnya, saya tidak tahu, tak ada yang tahu," ujarnya saat memberikan paparan tentang data statistik BP 2017 di Jakarta, Kamis (14/9/207).

Menurutnya, secara umum terdapat tiga hal yang sangat mempengaruhi pertumbuhan penggunaan mobil listrik. Pertama, faktor teknologi yang digunakan yang akan mempengaruhi seberapa besar biaya baterai.

Kedua, dukungan pemerintah karena jika pemerintah memang berkomitmen menaikkan penggunaan mobil listrik, pemerintah bisa memberikan subsidi. Ketiga, faktor sosial yang sulit diukur namun berpengaruh lebih kuat dari ketiga faktor lainnya.

"Seperti perilaku konsumen? Beberapa orang akan membeli kendaraan listrik bahkan jika harganya lebih mahal mungkin karena mereka peduli terhadap lingkungan atau mereka suka dengan teknologi barunya atau mereka berpikir akan dianggap sebagai orang baik," katanya

Alasannya, ujar Spencer, konsumen memiliki banyak alasan berbeda untuk menerima produk tertentu termasuk pada mobil listrik. Dia menyebut pada 2035 bila terdapat mobil listrik sebesar 100 juta unit, hal itu merupakan pertumbuhan yang besar.

"Perkiraan terbaik, mungkin 100 juta di 2035. Itu pertumbuhan yang besar," katanya.

Dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), disebutkan bahwa dari porsi BBM sebesar 96% pada 2015, porsinya akan menyusut menjadi 83,5% pada 2025. Porsinya terus turun hingga menyentuh 72,9% pada 2050 seiring dengan bertambahnya penggunaan bahan bakar lain yakni bahan bakar nabati, gas bumi dan listrik.

Untuk mencapai hal tersebut, pembangunan stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG) diharapkan bisa tercapai sebanyak 632 unit dengan total kapasitas 282 juta kaki kubik per hari (million standard cubic feet per day/MMscfd) di 15 kota pada 2025.

Angka ini ditargetkan naik pada 2050 dengan tambahan SPBG menjadi 2.888 unit dengan total kapasitas 1.291 MMscfd.

Sementara itu, untuk kendaraan bertenaga listrik atau hybrid ditargetkan bisa menyentuh 2.200 unit kendaraan roda empat dan 2,1 juta unit kendaraan roda dua.

Kendati demikian, dalam RUEN tidak diatur bahwa nantinya hanya akan ada satu jenis bahan bakar untuk sektor transportasi.

Tag : mobil listrik
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top