Menperin Yakin Ekspor TPT Capai US$15 Miliar pada 2019

Kementerian Perindustrian memproyeksikan nilai ekspor industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional bakal menyentuh angka US$15 miliar pada 2019.\n\n
Nindya Aldila | 16 September 2017 18:14 WIB
Ilustrasi kegiatan di pabrik tekstil - Reuters

Bisnis.com, NUSA DUA - Kementerian Perindustrian memproyeksikan nilai ekspor industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional bakal menyentuh angka US$15 miliar pada 2019.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan optimisme ini seiring dengan berbagai program dan insentif yang diberikan pemerintah untuk memacu kinerja sektor unggulan tersebut.

“Industri TPT merupakan sektor padat karya berorientasi ekspor. Pada  2019, kami menargetkan TPT mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 3,11 juta orang,” kata Airlangga seperti dikutip dari siaran pers, Sabtu (16/9/2017).

Menurut Airlangga, untuk mencapai sasaran tersebut, dibutuhkan investasi baru dan ekspansi di setiap sektor industri TPT. Dia memperkirakan pada saat itu akan ada penambahan kapasitas produksi sebesar 1,6 juta ton per tahun dengan nilai investasi Rp81,45 triliun dan penyerapan tenaga kerja sebanyak 424.261 orang.

Kemenperin memperkirakan ekspor industri TPT akan tumbuh rata-rata 11% per tahun. Pada 2018, dipatok sebesar US$13,5 miliar dan pada 2017 sebesar US$12,09 miliar. Di sisi tenaga kerja, pada 2018, diharapkan sektor ini menyerap sekitar 2,95 juta orang dan hingga akhir tahun ini sebanyak 2,73 juta orang.

Oleh karena itu, lanjut Airlangga, pemerintah fokus menciptakan iklim investasi yang kondusif dengan menerbitkan kebijakan-kebijakan yang dapat memudahkan pelaku industri dalam berusaha di Indonesia. Misalnya, memfasilitasi pemberian insentif fiskal berupa tax allowance dan tax holiday.

Kemudian, industri TPT nasional sedang didorong agar segera memanfaatkan teknologi digital seperti 3D printing, automation, dan internet of things sehingga siap menghadapi era Industry 4.0. Upaya transformasi ini diyakini dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas, selain melanjutkan program restrukturisasi mesin dan peralatan.

Airlangga menambahkan, pemerintah juga berupaya membuat perjanjian kerja sama bilateral dengan Amerika Serikat dan Uni Eropa supaya memperluas pasar ekspor TPT lokal.

“Saat ini dalam proses negosiasi untuk bilateral agreement tersebut, karena bea masuk ekspor produk tekstil Indonesia masih dikenakan 5-20 persen, sedangkan ekspor Vietnam ke Amerika dan Eropa sudah nol persen,” tuturnya.

Airlangga optimistis, industri TPT nasional mampu berdaya saing global. Pasalnya, sektor andalan ini telah terintegrasi dari hulu sampai hilir dan produknya dikenal memiliki kualitas yang baik di pasar internasional. “Khusus untuk industri shoes and apparel sport, kita sudah melewati China. Bahkan. Di Brazil, kita sudah menguasai pasar di sana hingga 80 persen,” ujarnya.

Saat ini, industri TPT yang beroperasi di Indonesia telah terintegrasi dengan klasifikasi dalam tiga area. Pertama, sektor hulu yang didominasi menghasilkan produk fiber. Kedua, sektor antara, perusahaan-perusahaan yang proses produksinya meliputi spinning, knitting, weaving, dyeing, printing dan finishing. Ketiga, sektor hilir berupa pabrik garmen dan produk tekstil lainnya.

Tag : tekstil
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top