Harga Gas Masih Ganjal Industri Tekstil

Harga gas masih mengganjal peningkatan daya saing industri tekstil dalam negeri.
Regi Yanuar Widhia Dinnata | 18 September 2017 10:35 WIB
Industri benang - Ilustrasi/Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA—Harga gas masih mengganjal peningkatan daya saing industri tekstil dalam negeri.

Ade Sudrajat, Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), mengatakan saat ini tarif gas yang paling rendah ditanggung oleh industri tekstil mulai dari US$8,9 per MMBtu hingga US$9,75 per MMBtu.

“Harga gas sebagai salah satu pendukung keberlangsungan produksi masih mahal. Bandingkan dengan India yang mendapatkan berbagai insentif guna mendukung industri tekstil di sana,” katanya.

Sebelumnya, Airlangga Hartarto, Menteri Perindustrian, menyampaikan bahwa industri tekstil dan produk tekstil (TPT) merupakan sektor padat karya yang memiliki peluang sebagai komoditas yang memberikan kontribusi terhadap ekspor nasional.

Pemerintah menargetkan ekspor industri TPT nasional pada 2019 dapat memberikan kontribusi mencapai US$15 miliar dan mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 3,11 juta orang.

“Kami memperkirakan pada saat itu akan ada penambahan kapasitas produksi sebesar 1,6 juta ton per tahun dengan nilai investasi Rp81,45 triliun dan penyerapan tenaga kerja sebanyak 424.261 orang,” kata Airlangga dalam siaran pers, Jumat (15/9/2017).

Pemerintah berjanji untuk fokus menciptakan iklim investasi yang kondusif dengan menerbitkan kebijakan yang dapat memudahkan pelaku industri dalam berusaha di Indonesia. Selain itu, tarif energi juga menjadi salah satu pembahasan utama pemerintah dalam peningkatan daya saing untuk berkompetisi dengan negara lain.

 

Tag : harga gas industri
Editor : Ratna Ariyanti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top