Rumput Laut Komoditas Andalan Ekonomi Biru

Rumput laut menjadi komoditas yang akan diunggulkan dalam kegiatan perikanan budidaya berbasis ekonomi biru (blue economy). Kajian kegiatan yang akan dipusatkan di Lombok, Nusa Tenggara Barat, itu telah disampaikan ke Organisasi Pangan Dunia (FAO).
Sri Mas Sari | 18 September 2017 12:27 WIB
Nelayan rumput laut - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Rumput laut menjadi komoditas yang akan diunggulkan dalam kegiatan perikanan budidaya berbasis ekonomi biru (blue economy). Kajian kegiatan yang akan dipusatkan di Lombok, Nusa Tenggara Barat, itu telah disampaikan ke Organisasi Pangan Dunia (FAO).

Dirjen Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan Slamet Soebjakto mengatakan, masyarakat Lombok tidak hanya mengekspor rumput laut dalam bentuk mentah, tetapi juga memanfaatkannya untuk kebutuhan industri dalam negeri. Limbahnya pun digunakan untuk pupuk, pakan ikan, dan pakan ternak.

"Inilah yang dinamakan blue economy, di mana seluruhnya termanfaatkan sehingga tidak ada limbah yang mencemari," katanya dalam siaran pers, Senin (18/9/2017).

Ekonomi biru memiliki prinsip-prinsip inovatif dan kreatif, efisien dalam pemanfaatan sumber daya, bernilai tambah, dan nirlimbah (zero waste), sehingga sangat ramah lingkungan dan mampu menciptakan lapangan kerja serta kesempatan wirausaha.

Volume produksi rumput laut Indonesia terus meningkat rata-rata 22,3% per tahun hingga mencapai 11,7 juta ton tahun lalu (angka sementara). Sementara itu, nilai produksinya rata-rata naik 11,8% per tahun hingga menjadi Rp13,2 triliun pada 2015.

Ekspor komoditas itu juga menyebar ke berbagai negara, terutama China, Jepang, Amerika Serikat, Denmark, Jerman, Filipina, dan Vietnam. Volume pengapalan pada 2016 188,3 juta ton senilai US$161,8 juta. Performa ekspor rumput laut berada di posisi kedua setelah udang.

Slamet mendorong pembudidaya menggunakan bibit rumput laut yang berkualitas, seperti hasil kultur jaringan sehingga kegiatan budidaya semakin baik dan target produksi 13,4 juta ton tahun ini dapat terwujud.

Koordinator Asosiasi Pembudidaya Rumput Laut Indonesia (ARLI) Bali, NTB, dan NTT Sunardi Harjo optimistis target itu tercapai. Oleh karena itu, zonasi dan perbaikan pengolahan serta tata niaga untuk mendorong peningkatan produks penting dilakukan.

Sekda Provinsi NTB Rosiadi Husaen Sayuti menyampaikan langkah KKP dan FAO sesuai dengan salah satu program kerja dalam RPJMD Provinsi NTB 2013-2018, yakni program Pijar, yang meruakan akronim dari sapi, jagung, dan rumput laut.

“Rumput laut merupakan salah satu komoditas yang memiliki peran dalam peningkatan pendapatan masyarakat pesisir, mengurangi angka kemiskinan, serta berkontribusi terhadap ekonomi daerah,” ujar Husaen.

FAO Representative Indonesia, Mark Smulders,  menyampaikan kajian pengembangan kegiatan budidaya rumput laut berbasis blue economy di Lombok, mulai dari kajian zonasi hingga business plan, sangat penting sebagai implementasi pengelolaan sumberdaya yang berkelanjutan. Apalagi, Indonesia merupakan produsen rumput laut terbesar kedua setelah China.

 

 

Tag : rumput laut
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top