Harga Tertinggi Dibatasi, Bisnis Beras Premium dan Medium Masih Prospektif

Bisnis penjualan beras untuk kategori medium dan premium masih prospektif meski pemerintah memberlakukan aturan harga eceran tertinggi.
M. Nurhadi Pratomo | 24 September 2017 12:25 WIB
Pekerja memegang beras Bulog kualitas super kemasan 5 kilogram di Gudang Bulog Serang, Banten, Selasa (16/5). - Antara/Asep Fathulrahman

JAKARTA — Bisnis penjualan beras untuk kategori medium dan premium masih prospektif meski pemerintah memberlakukan aturan harga eceran tertinggi.

Sukarto Bujung, Direktur Utama PT Buyung Poetra Sembada (BPS) Tbk., menilai penjualan beras medium dan premium masih prospektif meski pemerintah memberlakukan ketentuan harga eceran tertinggi (HET). Hal itu disebabkan oleh pola konsumsi masyarakat Indonesia.

“[Propek ke depan] tetap beras premium dan medium karena konsumsinya paling besar,” ujarnya kepada Bisnis, Minggu (24/09/2017).

Sukarto mengatakan tantangan ke depan bagi pengusaha beras adalah meningkatkan efektivitas dan efisiensi kerja. Dengan demikian, pelaku tetap meraup keuntungan sambil mengikuti aturan yang ditetapkan oleh pemerintah.

Di sisi lain, saat ini produsen beras merek Topi Koki itu belum berencana menambah produk baru termasuk jenis beras khusus yang tidak diatur oleh ketentuan HET. “Belum [rencana menambah lini beras khusus] tetapi ada beberapa teman menawarkan kerja sama beras organik,” imbuhnya.

Seperti diketahui, sejak ditetapkanya HET beras pada 24 Agustus 2017 oleh Kementerian Perdagangan, kini jenis makanan pokok sebagian masyarakat Indonesia terdikotomi menjadi dua bagian yakni premium dan medium. Pembagian itu berdasarkan kadar patahan yang terkandung dalam tiap kemasan beras yang dijual.

Adapun kadar patahan untuk beras medium maksimal sebesar 25% sedangkan premium 15%. Untuk beras jenis organik atau khusus tidak diatur dalam ketentuan HET dan akan dijabarkan lebih lanjut klasifikasinya oleh Kementerian Pertanian pada pekan depan.

Aturan HET berlaku terhitung sejak September 2017 dengan diterbitkannya Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 57 Tahun 2017 tentang Penetapan Harga Eceran Tertinggi Beras. Setelah toleransi yang diberikan kepada pedagang dan pemasok untuk menyesuaikan dengan kebijakan yang baru, pemerintah mulai pekan depan akan mulai memeriksa kesesuaian serta memberlakukan sanksi bagi pelanggar.

 

 

 

 

 

Tag : Harga Beras
Editor : Rahayuningsih

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top