Indonesia Pamerkan Aplikasi Nuklir di Wina

Indonesia menunjukkan kepada dunia bahwa nuklir tak hanya identik dengan senjata pemusnah massal dan penebar ancaman maut. Nuklir juga bisa bermanfaat untuk kesehatan manusia.
Andhina Wulandari | 24 September 2017 08:31 WIB
Duta Besar RI untuk Austria Darmansjah Djumala saat memberi sambutan dalam pameran aplikasi nuklir untuk kesehatan di Sidang Umum IAEA ke-61 - Dok. KBRI Wina

Bisnis.com, WINA – Indonesia menunjukkan kepada dunia bahwa nuklir tak hanya identik dengan senjata pemusnah massal dan penebar ancaman maut. Nuklir juga bisa bermanfaat untuk kesehatan manusia.

Duta Besar RI untuk Austria Darmansjah Djumala meresmikan pameran aplikasi nuklir untuk kesehatan yang diselenggarakan Indonesia di sela-sela acara General Conference (Sidang Umum) ke-61 Badan Energi Atom Internasional (IAEA), di Wina, Austria.

Pameran yang mengambil tema “Enhancing the Quality of Health of the Indonesian People”, menampilkan hasil karya anak bangsa, yakni alat renograf untuk deteksi dini fungsi ginjal, serta kit radioisotop dan radiofarmaka, yang merupakan kerja sama hilirisasi antara BATAN, PT. Kimia Farma, dan Kementerian Kesehatan.

“Kesehatan merupakan salah satu program prioritas Pemerintah RI dan modal kunci dalam mendukung pembangunan nasional. Ini merupakan salah satu contoh konkret hasil kerja sama dengan IAEA di bidang aplikasi nuklir untuk tujuan damai. Kebijakan tersebut sejalan dengan upaya Pemerintah untuk membumikan diplomasi nuklir sehingga memberi manfaat langsung bagi masyarakat,” ujar Djumala dalam sambutannya, seperti dilansir dalam siaran pers, Sabtu (23/9/2017).

Pada kesempatan pameran tersebut, Deputi Dirjen IAEA Bidang Aplikasi Nuklir, Aldo Malavasi, menyambut baik pameran tersebut dan memuji kemajuan aplikasi nuklir Indonesia di bidang kesehatan. Malavasi menghargai keseriusan Indonesia dalam mengembangkan teknologi nuklir di berbagai sektor kehidupan, dan berjanji IAEA akan terus siap membantu Indonesia mengembangkan aplikasi nuklir di bidang-bidang yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat.

“Ini merupakan langkah nyata kolaborasi IAEA dengan Indonesia dalam rangka mencapai Sustainable Development Goals,” kata Malavasi yang telah berkunjung ke Indonesia pada pertengahan Mei 2017.

Djumala juga menjelaskan, sebagai negara kepulauan dengan distribusi populasi yang menyebar secara tidak merata, akses kesehatan menjadi tantangan utama Indonesia di bidang kesehatan, selain semakin tingginya harga peralatan kesehatan.

“Teknologi Renograf yang dibuat anak bangsa ini sangat bermanfaat dan accessible, karena harganya relatif terjangkau, berkat teknologi aplikasi nuklir. Ke depannya, Indonesia berharap IAEA dapat terus mendorong pengembangan program peralatan kesehatan yang terjangkau dan aman bagi msyarakat,” tambahnya.

Pameran tersebut banyak diminati berbagai negara dan banyak pula yang tertarik untuk mengimpornya, bahkan menjalin kerja sama untuk pengembangan teknologi serupa.

“Melalui kerja sama dengan negara-negara anggota, industri kesehatan, dan organisasi internasional, teknologi aplikasi nuklir di bidang kesehatan ini diharapkan bisa meluas di berbagai belahan dunia, khususnya di negara dunia ketiga. Sehingga harapan dari Sustainable Development Goal 3, yakni hidup sehat dan kesejahteraan bagi semua, menjadi keniscayaan,” tutur Djumala.

Pembukaan stand pameran Indonesia dimeriahkan tari Puspanjali dari Bali, yang mendapat banyak perhatian dari pengunjung.

Tag : indonesia, nuklir
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top