Ini Alasan Produksi Gula Konsumsi Dipatok Naik

Pemerintah menetapkan perhitungan produksi gula konsumsi untuk sementara pada 2017 sebesar 2,38 juta ton, naik dibandingkan produksi 2016 sebesar 2,2 juta ton.
Azizah Nur Alfi | 24 September 2017 13:25 WIB
Buruh memanen tebu untuk dikirim ke pabrik gula di Ngawi, Jawa Timur, Selasa (8/8). - ANTARA/Ari Bowo Sucipto

JAKARTA - Pemerintah menetapkan perhitungan produksi gula konsumsi untuk sementara pada 2017 sebesar 2,38 juta ton, naik dibandingkan produksi 2016 sebesar 2,2 juta ton.

Direktur Tanaman Semusim dan Rempah Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian Agus Wahyudi menyampaikan rapat taksasi gula 2017 yang digelar di Bogor pertengahan September ini, menetapkan prediksi produksi gula tahun ini sebesar 2,38 juta ton - 2,4 juta ton.

Pemerintah berharap produksi gula konsumsi dapat mencapai 2,4 juta ton sejalan dengan cuaca yang mendukung. "Saat ini giling belum habis. Giling akhir mungkin Desember. Mudah-mudahan bisa tercapai 2,4 juta ton. Ini cuacanya sedang bagus," kata dia yang tengah berada di Sulawesi Tenggara dihubungi Bisnis pada Jumat (22/9).

Rapat taksasi gula dihadiri produsen gula konsumsi berbasis kebun, akademisi dari Institut Pertanian Bogor, perwakilan dari Kementerian Perindustrian, dan perwakilan dari Kementerian Pertanian.

Rapat tersebut mencatat perkembangan data produksi gula dan menghitung perkiraan produksi sampai akhir tahun. Angka ini yang akan menjadi pertimbangan kebijakan impor tahun berikutnya.

Menurut dia, kenaikan produksi gula tahun ini karena terbantu cuaca yang membaik sehingga produksi dapat meningkat. Berbeda dari 2016 yang ketika itu hujan terjadi hampir sepanjang tahun sehingga produksi menurun.

Meski produksi meningkat dari tahun lalu, tetapi masih belum menutupi kebutuhan gula konsumsi nasional sebesar 2,8 juta ton per tahun. Sehingga masih ada kekurangan gula konsumsi 400.000 ton - 500.000 ton.

"Iya defisit. Kami hanya memberi data saja ke Menteri Perdagangan. Angka ini yang akan menjadi pertimbangan kebijakan impor tahun depan. 2018, prognosanya sekarang," kata dia.

Dosen Institut Pertanian Bogor (IPB) yang mengikuti jalannya taksasi gula konsumsi, Purwono menyampaikan produksi gula konsumsi hingga akhir tahun berpotensi kurang dari 2,38 juta ton. Sebab, produksi hingga September baru tercapai 1,9 juta ton - 2 juta ton.

Menurut dia, pemerintah dinilai perlu menggelar rapat koordinasi terbatas kebijakan impor gula raw sugar untuk diolah menjadi gula kristal putih untuk menutup kekurangan gula konsumsi. "Angka ini yang seharusnya dipakai untuk menghitung neraca. Kesalahannya paling 2%-3%," kata dia ditemui usai mengikuti Rembug Jagung Nasional di Jakarta pada Rabu (20/9).

Agus menambahkan Kementerian Pertanian saat ini tengah mendata kebutuhan bongkar ratoon berdasarkan laporan dari daerah. Kementerian Pertanian berencana memperluas area tanam tebu dengan total 15.000 ha.

"Itu masih total, Kami masih menunggu laporan dari seluruh daerah. Nanti akan ketemu berapa angka bongkar ratoon dan perluasan. Saat ini belum selesai," kata dia.

 

Tag : gula
Editor : Rahayuningsih

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top