Dubes Tantowi: Cokelat Terbaik Indonesia Bisa Mendunia!

Selandia Baru identik dengan produk susu, daging dan cokelat. Penduduk Selandia Baru mengonsumsi cokelat rerata 5 kg per tahun dibandingkan dengan penduduk Asia-Pasifik yang hanya 200 gram per tahun.
Yusuf Waluyo Jati | 25 September 2017 17:19 WIB
Dubes RI untuk Selandia Baru Tantowi Yahya (kedua kanan) bersama James Ardern, Chief Operating Officer J.H. Whittaker & Sons Ltd. (kedua kiri) berdiri di depan kantor perusahaan cokelat tersebut, Senin (25/9/2017). - Bisnis/Istimewa

Bisnis.com, WELLINGTON – Selandia Baru identik dengan produk susu, daging dan cokelat. Penduduk Selandia Baru mengonsumsi cokelat rerata 5 kg per tahun dibandingkan dengan penduduk Asia-Pasifik yang hanya 200 gram per tahun. 

Salah satu perusahaan cokelat ternama di Selandia Baru adalah Whittaker's yang penjualannya terbesar kedua setelah Cadbury. Berdiri sejak 1896, Whittaker's telah menjadi ikon dunia untuk cokelat Selandia Baru.

Dubes Indonesia untuk Selandia Baru Tantowi Yahya, dalam keterangan resminya, Senin (25/9), mengunjungi kantor dan pabrik Whittaker's di Porirua, Wellington, dan diterima oleh James Ardern, Chief Operating Officer dan Mark Humphris, Manajer Pengadaan.

Saat bertemu dengan kedua pimpinan tersebut, Tantowi menjelaskan tentang keadaan terkini budi daya cokelat dan industri pengolahan cokelat di Tanah Air. Indonesia, tuturnya, adalah penghasil cokelat terbesar ketiga di dunia dan memasok 17% dari kebutuhan coklat dunia.

Sebagai salah satu penghasil produk coklat besar dunia, lanjutnya, Selandia Baru saat ini baru mengimpor 411 kg biji cokelat dari Indonesia. Fakta ini membuat dirinya optimistis bahwa pasar untuk biji cokelat Indonesia masih terbuka lebar. Selain itu, Tantowi juga optimistis cokelat Indonesia bisa mendunia melalui Selandia Baru.

Humphris yang sudah sangat familiar dengan Indonesia, berkeinginan membuat cokelat dengan cita rasa Indonesia. Pada kesempatan itu pula, Tantowi juga menyerahkan sampel biji cokelat dari beberapa daerah di Indonesia.

Pertemuan dilanjutkan dengan tur keliling pabrik disertai penjelasan dari Humphris tentang proses produksi dengan terperinci. Setelah melihat langsung bahan mentah yang digunakan oleh pabrik Whittaker's, Tantowi semakin yakin bahwa Indonesia mampu memasok bahan-bahan tersebut.

"Peluang biji cokelat masuk kesini sangat besar. Namun banyak pekerjaan rumah yang harus kita kerjakan untuk menjadikan cokelat Indonesia pilihan utama produsen cokelat seperti Whittaker's ini" jelas Tantowi.

Menurutnya, dua hal utama yang harus menjadi perhatian Indonesia adalah kredibilitas dan konsistensi. Kredibiltas untuk menumbuhkan dan menjaga kepercayaan (trust) antara semua stakeholders seperti pemerintah, pengusaha, dan petani.

Adapun konsistensi adalah pentingnya menjaga keberlangsungan dan kualitas pasokan. “Banyak kasus tentang kedua hal tersebut dianggap tidak penting sehingga eksportir mengalihkan pasar ke negara lain,” lanjut Tantowi.

Nilai perdagangan Indonesia-Selandia Baru saat ini baru berkisar US$1,4 miliar dan akan ditingkatkan menjadi US$4 miliar pada 2024 berdasarkan kesepakatan Presiden Jokowi dan Perdana Menteri Selandia Baru John Key dalam kunjungannya ke Jakarta pada 2016.

Tantowi berkeyakinan angka ini dapat dicapai sejalan dengan membaiknya koordinasi dan integrasi langkah-langkah kementerian terkait.

 

Tag : selandia baru, cokelat, tantowi yahya
Editor : Yusuf Waluyo Jati

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top