Gas Lapangan Jambaran-Tiung Biru Mulai Mengalir 2021

Gas dari Lapangan Jambaran-Tiung Biru mulai mengalir pada 2021 dengan kapasitas sekitar 315 juta kaki kubik per hari (million standard cubic feet per day/MMscfd).
Duwi Setiya Ariyanti | 25 September 2017 15:48 WIB

Bisnis.com, BOJONEGORO - Gas dari Lapangan Jambaran-Tiung Biru mulai mengalir pada 2021 dengan kapasitas sekitar 315 juta kaki kubik per hari (million standard cubic feet per day/MMscfd).

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Amien Sunaryadi mengatakan dengan perkiraan waktu pembangunan fosil, pada 2021 gas mulai mengalir.

Adapun, gas yang dihasilkan dari enam sumur akan diolah melalui fasilitas pemrosesan gas (gas processing facility/GPF). Dari rata-rata produksi sebesar 315 MMscfd, GPF nantinya memisahkan kandungan karbondioksida (CO2) dan hidrogen sulfida (H2S).

Gas yang dapat dijual dari lapangan tersebut sebesar 172 MMscfd yang akan disalurkan melalui pipa transmisi Gresik-Semarang akan dibangun PT Pertamina Gas. 100 MMscfd di antaranya disalurkan untuk memenuhi kebutuhan gas pembangkit listrik. Sisanya, untuk memenuhi kebutuhan gas industri.

"Dengan dukungan semua pihak, diharapkan proyek ini dapat mulai berproduksi pada awal 2021,” ujarnya di Bojonegoro.

Dari gas yang dihasilkan, dia memperoyeksikan potensi penerimaan negara sebesar US$3,61 miliar atau lebih dari Rp48 triliun hingga kontrak berakhir 2035. Selain penerimaan negara, proyek ini akan memberikan efek berganda bagi perekonomian daerah maupun nasional. Misalnya, penyerapan tenaga kerja yang mencapai 6.000 orang pada masa konstruksi.

Harga gas di kepala sumur sebesar US$6,7 per juta british thermal unit (MMBtu), tetap (flat) selama 30 tahun. Dengan biaya toll fee sebesar US$0,9 MMBtu, harga di pembangkit listrik PLN menjadi sebesar US$7,6 per MMBtu.

Menurut Amien, total biaya investasi dan operasi proyek ini diperkirakan mencapai US$3,457 miliar atau sekitar Rp46 triliun. Jumlah ini belum termasuk pembangunan pipa Gresik-Semarang sepanjang 267 kilometer.

“Diproyeksikan menerimaan negara dari proyek ini sampai kontrak selesai tahun 2035 mencapai US$3,61 miliar atau lebih dari Rp48 triliun,” katanya.

Proyek tersebut merupakan unitisasi dua lapangan dari dua wilayah kerja berbeda. Lapangan Jambaran merupakan bagian dari wilayah kerja Cepu dan Lapangan Tiung Biru yang menjadi bagian dari wilayah kerja Pertamina EP.

Pada Blok Cepu, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) menjadi operator dan menguasai saham partisipasi sebesar 20,5%, Ampolex 24,5%, Pertamina EP Cepu 45% dan beberapa Badan Usaha Milik Daerah dengan saham partisipasi 10%.

Sementara, dalam proyek itu, PEPC menjadi operator dan bersama EMCL masing-masing memiliki porsi 41,4%. Badan usaha milik daerah (BUMD) memiliki 9,2% dan sisanya sebanyak 8% dikuasai Pertamina EP. Namun, saat ini masih berproses pengalihan porsi EMCL kepada PEPC.

Tag : blok cepu
Editor : Sepudin Zuhri

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top