‘Mal Hantu’ Biasanya Akibat Ini

Mal yang mengalami penurunan kinerja paling buruk mayoritas adalah pusat perbelanjaan strata title, yang tokonya dibeli oleh pedagang dan bukan menggunakan sistem sewa.
Anissa Margrit | 26 September 2017 14:47 WIB
Pusat perbelanjaan - Antara/Teresia May

Bisnis.com, JAKARTA - Mal yang mengalami penurunan kinerja paling buruk mayoritas adalah pusat perbelanjaan strata title, yang tokonya dibeli oleh pedagang dan bukan menggunakan sistem sewa.

Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Stefanus Ridwan mengungkapkan resep untuk bertahan bagi pusat perbelanjaan strata title sama dengan mal sewa yaitu melakukan perubahan atau penyegaran konsep. Barang-barang yang dijual pun mesti dipastikan resmi agar tetap bisa bersaing, terutama dengan online shop.

APPBI mengakui perubahan yang terjadi sekarang membuat ukuran anchor tenant makin lama makin menyusut. Berbeda dengan beberapa tahun lalu di mana nama anchor tenant bisa menentukan seberapa banyak pengunjung yang datang ke mal itu.

"Anchor tenant dulu memang daya tarik. Dulu kan iklan hanya perusahaan besar yang bisa, sekarang tidak, mereka lah yang harus kerja ekstra keras untuk mendatangkan pengunjung. Apalagi ada media sosial," ungkap kepada Bisnis.com, baru-baru ini.

Mengenai tarif sewa mal dan service charge, APPBI menyebutkan hal itu terkait dengan berbagai komponen seperti perubahan Tarif Dasar Listrik (TDL), kenaikan Upah Minimum Regional (UMR), dan inflasi yang selalu ada penyesuaian.

Menurut APPBI, tarif sewa mal di Indonesia termasuk yang termurah dibandingkan di luar negeri. Jika pusat perbelanjaan di mancanegara dapat mencapai Break Even Point (BEP) dalam waktu 4-5 tahun, maka mal di Indonesia baru bisa balik modal setelah 10 tahun.

Tag : mal
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top