Kenaikan Harga Naphta Bayangi Sektor Petrokimia

Perusahaan petrokimia tengah menghadapi persoalan kenaikan harga bahan baku.
N. Nuriman Jayabuana | 26 September 2017 17:46 WIB
PT Chandra Asri Petrochemical Tbk - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA—Perusahaan petrokimia tengah menghadapi persoalan kenaikan harga bahan baku.

Direktur PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. Suryandi menyatakan kenaikan harga naphta menekan margin cukup signifikan pada paruh pertama tahun ini. “Kenaikan harga bahan baku naphta pada semester pertama 2017 sebesar 24% menjadi senilai US$486 per ton,” ujarnya dalam siaran pers, Selasa (26/9/2017).

Hanya saja, kenaikan beban biaya tersebut masih dapat teratasi dengan kenaikan volume penjualan. Volume penjualan perseroan tercatat sebanyak 1,24 juta ton pada semester pertama 2017, lebih tinggi ketimbang volume penjualan paruh pertama tahun lalu sebanyak 1,03 juta ton.

Kenaikan volume penjualan itu menjadi salah satu faktor pendongkrak nilai pendapatan bersih menjadi senilai US$1,19 miliar pada semester pertama 2017. Pada semester pertama tahun lalu, perseroan mencatatkan pendapatan bersih senilai US$882,1 juta.

PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. mampu mencatatkan laba bersih senilai US$174,2 juta pada semester pertama tahun ini. Laba perseroan melonjak 32% dibanding periode yang sama tahun lalu meski menghadapi kenaikan beban biaya operasional.

Suryandi menyatakan perseroan masih tetap fokus menjalankan strategi ekspansi pada sisa tahun berjalan. Salah satunya dengan meningkatkan kapasitas lini produksi untuk dapat memenuhi permintaan nasional.

Perseroan kini memiliki fasilitas produksi berbasis naphta cracker di Cilegon. Pabrik terintegrasi tersebut memproduksi ethylene, styrene monomer, butadiene, dan polypropylene. Seluruh produk itu merupakan bahan baku produk pengemasan, pipa, otomotif dan elektronik.

Perseroan menargetkan dapat merampungkan pabrik polyetilena baru pada 2019 dengan kapasitas sebesar 400.000 ton per tahun. Proyek pabrik baru tersebut bakal menelan investasi senilai US$350 juta. “Diharapkan rampung akhir 2019 dan berproduksi awal 2020,” ujarnya.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia Fajar Budiyono menyatakan ongkos produksi sektor petrokimia berbasis naphta di Indonesia terbilang cukup tinggi. Salah satu penyebabnya adalah tidak terintegrasinya petrokimia dengan kilang minyak. “Itu mengapa kita masih mengimpor naphta,” ujarnya.

Lambatnya pengembangan petrokimia di Indonesia dapat terlihat dari nyaris absennya investasi baru pada sektor tersebut. Pabrikan petrokimia eksisting sepenuhnya masih bergantung kepada bahan baku naphta.  Padahal menurutnya, pengembangan sektor petrokimia mesti segera beralih kepada yang berbasis gas lantaran lebih efisien biaya. Terlebih, Indonesia memiliki ketersediaan cadangan gas yang sangat memadai di Bintuni dan Masela.

Fajar menyatakan sektor petrokimia berbasis gas di Indonesia merupakan peluang investasi yang menarik di mata investor. Menurutnya, pabrikan petrokimia di Indonesia masih belum mampu memasok kebutuhan polimer dan monomer sebanyak 5,6 juta ton setiap tahun tahun.

“Investor pasti meminta kepastian harga dan pasokan gasnya. Sampai sekarang mereka yang tertarik itu belum juga mendapat kepastian soal gas,” ujarnya.

 

Tag : petrokimia
Editor : Ratna Ariyanti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top