Minim Bahan Baku, Investasi Hulu Perlu Digenjot

Pemerintah mesti mendorong lebih banyak investasi masuk pada sektor hulu untuk meredam ketergantungan impor bahan baku.
N. Nuriman Jayabuana | 26 September 2017 20:20 WIB
Adhi S. Lukman, Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi). - Antara

Bisnis.com, JAKARTA—Pemerintah mesti mendorong lebih banyak investasi masuk pada sektor hulu untuk meredam ketergantungan impor bahan baku.

Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Adhi S. Lukman menyatakan laju pertumbuhan investasi sektor hilir industri makanan minuman begitu pesat dalam beberapa tahun belakangan. Sebaliknya, laju pertumbuhan investasi sektor hulu justru cenderung stagnan.

“Intinya bagaimana supaya industri bisa lebih banyak ditarik ke hulu. Laju pertumbuhan investasi di hulunya tidak seimbang dengan yang di hilir. Hulunya dari dulu begitu begitu saja tidak ada investasi baru, akhirnya industri makanan minuman semakin tergantung bahan baku impor,” ujarnya kepada Bisnis (26/9/2017).

Menurutnya, sekitar 80% permintaan bahan baku industri akhirnya mesti terpenuhi dari pasokan barang impor karena industri hilir makanan minuman membutuhkan berbagai produk ekstraksi, perasa, pemanis, dan bahan pangan dalam jumlah besar. Sayangnya, kapasitas produsen bahan baku lokal tak mampu memenuhi angka permintaan tersebut.

“Bahan baku dan food ingredients di kita itu memang ada, tapi jumlahnya tidak masif. Sedangkan yang impor itu sudah harganya lebih murah, ketersediannya juga mampu penuhi permintaan skala industri,” ujarnya.

Adhi mengumpamakan salah satu kebutuhan yang paling utama bagi industri hilir makanan minuman adalah gula rafinasi. Kebutuhan lini produksi industri melebihi 3 juta ton per tahun sehingga mesti bergantung kepada pasokan impor.

“Mestinya pemerintah mencermati regulasi-regulasi yang sebenarnya justri menghambat pertumbuhan industri. Pengetatan bahan baku, apa itu garam, gula dan sebagainya mestinya tidak perlu ada,” ujarnya.

Di samping itu, Adhi menyatakan pabrikan juga ketergantungan terhadap buah impor. Sebab pasokan buah lokal nyatanya tak sanggup memenuhi permintaan industri dalam skala besar. “Buah-buahan kita memang jauh lebih enak, tetapi ketersediaannya bukan skala industri. Pasokannya juga tidak berkelanjutan karena bergantung sekali dengan musim,” ujarnya.

Badan Koordinasi Penanaman Modal mencatat realisasi investasi pada industri makanan minuman senilai Rp37,3 triliun pada semester pertama 2017. Nilai investasi tersebut naik 25% dibandingkan dengan capaian semester pertama tahun lalu senilai Rp Rp29,78 triliun.

Tag : industri makanan minuman
Editor : Ratna Ariyanti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top