PLTU Mulut Tambang Masuki Babak PPA

Proyek pembangkit listrik tenaga uap dengan skema mulut tambang atau mine to mouth akan memasuki proses penandatangan power purchase agreement pada Oktober mendatang.
Gemal AN Panggabean | 28 September 2017 20:27 WIB
Kapal nelayan melintas di depan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Teluk Sirih, di Padang, Sumatra Barat, Minggu (23/7). - ANTARA /Iggoy el Fitra

Bisnis.com, JAKARTA-- Proyek pembangkit listrik tenaga uap dengan skema mulut tambang atau mine to mouth akan memasuki proses penandatangan power purchase agreement pada Oktober mendatang.

Sebelumnya, masalah PPA mulut tambang terkendala karena proses negosiasi soal harga jual beli listrik yang belum ada titik temu. PLN telah menyelesaikan soal disparitas harga dengan beberapa perusahaan. Penetapan tarif tersebut berkaitan dengan proyeksi pemerintah untuk menurunkan tarif listrik bagi konsumen. PLN perlu mempertimbangkan harga yang efisien agar harga listrik untuk konsumsi masyarakat menjadi murah.

Direktur Utama Sofyan Basir mengatakan, PPA tersebut melibatkan 19 perusahaan pengembang atau independetn power producer/IPP. Total daya listrik dari proyek tersebut mencapai lebih dari 8.000 megawatt (MW).

"Skema mine to mouth merupakan salah satu upaya efisiensi PLN dan pemrrintah. Seluruh pengembang akan menandatangani PPA," katanya menjawab bisnis di sela acara Hari Listrik Indonesia, Kamis (28/9).

Sofyan mengatakan, hingga saat ini sidah 26.000 MW pembangkit listrik yang sudah menandatangani PPA.
Menurut data PLN, saat ini, kapasitas PLTU terpasang sebesar 28.090 MW. Angka ini mengambil 52% dari total kapasitas pembangkit sebesar 54.015 MW.

Menurut data Kementerian ESDM, sebanyak 52,6% listrik yang dibeli PLN dari IPP berasal dari PLTU. Sementara itu, harga batu bara mengambil porsi sebesar 33,5% dari rata-rata biaya pokok produksi (BPP) nasional yang saat ini sebesar US$7,35 sen per Kilowatt-Hour (KWh).

Beberapa pembangkit listrik mulut tambang di Indonesia dianyaranya: PLTU Mulut Tambang Jambi Tahap 1 dengan kapasitas 2x300 megawatt (MW), PLTU Mulut Tambang Kalselteng 3 dengan kapasitas 200 MW dan PLTU Mulut Tambang Kaltim 5 dengan kapasitas 500 MW.

PLTU Mulut Tambang lainnya yang terletak di Sumatra dan Kalimantan. Secara total, PLTU mulut tambang di Sumatra berkapasitas 5.390 mega watt (MW) dan di Kalimantan 1.600 MW. Secara rinci, berdasarkan rencana usaha penyediaan tenaga listrik (RUPTL) 2017-2026, terdapat sembilan pembangkit di Sumatra.

Kesembilan pembangkit tersebut yakni Sumsel-1 berkapasitas 300 MW, Banyuasin 240 MW dan Sumbagsel-1 berkapasitas 300 MW. Selain itu, Riau-1, Sumsel-6 dan Sumatra 1 dengan kapasitas masing-masing sebesar 600 MW. Kemudian Sumset MT (ekspansi) sebesar 350 MW, Jambi 1.200 MW dan Sumsel-8 1.200 MW.

Sisanya, di Kalimantan terdapat tujuh pembangkit yakni Kalselteng 3, Kalselteng 4, Kalselteng 5, Kaltim 3, Kaltim 5, dan Kaltim 6 dengan kapasitas masing-masing 200 MW juga Kaltimra sebesar 400 MW.

Tag : pltu
Editor : Sepudin Zuhri

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top