Instran: Tarif KA Jarak Jauh dan Menengah Ekonomi Bersubsidi Tidak Perlu Naik

Institut Studi Transportasi menilai tarif kereta api jarak jauh dan menengah kelas ekonomi bersubsidi pelayanan publik atau public service obligation sebaiknya tidak perlu naik.
Yudi Supriyanto | 30 September 2017 06:22 WIB
Calon penumpang mengisi formulir pemesanan tiket kereta api di Stastiun Pasar Senen, Jakarta, Jumat (17/3). - Antara/Aprillio Akbar

Bisnis.com, JAKARTA--Institut Studi Transportasi menilai tarif kereta api jarak jauh dan menengah kelas ekonomi bersubsidi pelayanan publik atau public service obligation sebaiknya tidak perlu naik.

Ketua Umum Institut Transportasi (Instran) Darmaningtyas mengatakan, angkutan kereta api jarak jauh sudah lebih mahal dibandingkan tarif bus jarak jauh pada jarak yang sama.

"Sudah cukup, karena daya beli masyarakat 3 tahun ini kan menurun, kalau dinaikkan kasihan orang miskin nanti tidak bisa beli apa-apa," kata Darmaningtyas, Jakarta, Jumat malam (29/9/2017).

Dia menjelaskan, PT Kereta Api Indonesia saat ini mendapatkan banyak beban penugasan dari pemerintah. Penugasan-penugasan itu memerlukan dana besar.

Di sisi lain, ungkapnya perusahaan memiliki tanggungan hutang masa lalu yang diperlukan untuk mewujudkan KAI seperti saat ini.

Utang tersebut perlu dicicil setiap tahun, dan itu berarti beban bagi KAI. Kondisi tersebut, lanjutnya ditambah pembayaran infrastructure maintenance operation (IMO) yang rencananya akan berkurang.

"Jadi memang dilematis," lanjutnya.

Meskipun begitu sebagai konsumen, dia menilai harga kereta jarak jauh dan menengah sudah cukup mahal.

Tag : tiket kereta api
Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top