Korsel Kepincut Proyek Infrastruktur Transportasi, Potensi Investasi Rp20 Triliun

Proyek infrastruktur sektor transportasi di Indonesia tampak sangat\'seksi\' di mata negara-negara asal Asia Timur.\n\n
Abdul Rahman | 30 September 2017 17:46 WIB
Presiden Joko Widodo (ketiga kanan) bersama Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimoeljono (kedua kanan) serta Mendikbud Anies Baswedan (ketiga kiri) berjalan seusai bertemu masyarakat di Desa Piasak, Kecamatan Tayan Hilir, Kabupaten Sanggau, Kalbar, Selasa (22/3). Presiden Joko Widodo melakukan kunjungan kerja di Kalbar pada 22-23 Maret untuk meninjau langsung kondisi infrastruktur jalan dan perbatasan di daerah tersebut. - ANTARA

Bisnis.com, JAKARTA - Proyek infrastruktur sektor transportasi di Indonesia tampak sangat'seksi' di mata negara-negara di  Asia Timur.

Sebelumnya,  ada dua negara yaitu China dan Jepang yang kerap berebut proyek, kini bertambah lagi satu negara yaitu Korea Selatan.

Dalam pertemuan Menteri Perhubungan se-Asia dan Eropa di Bali, pemerintah Negeri Ginseng tersebut menyatakan ketertarikannya pada sejumlah proyek.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan, proyek kereta api di Sulawesi Selatan merupakan yang paling diminati. Namun, saat disodori proyek lain seperti pelabuhan Kuala Tanjung dan bandara Kualanamu di Sumatra Utara serta pelabuhan Kijing di Kalimantan Barat, mereka pun tertarik menanamkan duitnya di situ.

"Kami beri kesempatan kepada Korea Selatan untuk berinvestasi terutama di kereta api Sulsel. Potensial juga Kuala Tanjung, Kualanamu dan Kijing," katanya usai bertemu Wakil Menteri Pertanahan, Infrastruktur dan Transportasi Korsel Maeng Sung Kyu di Bali.

Total nilai investasi yang diperkirakan bisa diperoleh dari Korea Selatan sekitar Rp20 triliun. Nota kesepahaman rencananya akan dilakukan 2-3 bulan lagi.

Salah satu pertimbangan Korea Selatan berminat menaruh uangnya di Indonesia karena mereka cukup yakin mampu bersaing dengan China dan Jepang, baik dalam kualitas produk maupun harga.

Untuk tahap awal, KA Trans Sulawesi rute Makassar-Parepare akan dioperasikan sepanjang 44 kilometer. Saat ini, sudah ada rel terpasang sepajang 16 kilometer. Sisanya dalam tahap pengerjaan.

Pengoperasian tahap awal tersebut membutuhkan anggaran  Rp3,3 triliun lebih. Pada 2016  sudah dialokasikan Rp1,05 triliun lebih.

Adapun sisanya  Rp2,3 triliun lebih, oleh Kemenhub sudah dijanjikan akan dipenuhi.

Budi menuturkan, negara-negara Eropa lebih tertarik pada investasi teknologi. Contohnya  Polandia yang ingin membangun pabrik bus listrik atau Uni Eropa yang berbagi pengalaman soal teknologi transportasi terbaru.

Negara dari Asia Timur justru lebih memilih terlibat langsung dalam proyek. China sudah lebih dahulu menyatakan komitmennya lewat proyek kereta api cepat Jakarta-Bandung.

Sementara itu Jepang terlibat dalam pendanaan proyek kereta semi cepat Jakarta-Surabaya. Dengan demikian, tiga mega proyek kereta api di Indonesia bakal digarap oleh negara Asia Timur.

Selain kereta api, ketiga negara tersebut juga getol berinvestasi di sektor maritim. Setelah Korsel Kuala Tanjung, China juga telah menyatakan minatnya. Jepang bahkan sudah berkomitmen di proyek pelabuhan Patimban melalui Japan Internasional Corporation Agency (JICA).

Pemerintah Indonesia dan Jepang juga telah sepakat mengenai pembagian saham yakni 51% untuk Indonesia dan 49% untuk Jepang. Kedua belah pihak juga akan menunjuk operator pelabuhan yang merupakan kolaborasi Indonesia-Jepang.

Secara keseluruhan proyek ini membutuhkan investasi Rp43,5 triliun. Sebanyak 71% dari nilai investasi tersebut berasal dari pinjaman JICA.

Tag : infrastruktur
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top