Kerusakan Komoditas Pertanian 40%, Ini 7 Rekomendasi Logistik SCI

Tingkat kerusakan komoditas pertanian akibat buruknya penanganan logistik mencapai 40%. Hal ini berdampak pada tingginya biaya logistik.
Abdul Rahman | 24 Oktober 2017 21:22 WIB
Ilustrasi: Petani memanen sawi putih hidroponik di Deli Serdang, Sumatra Utara. - Antara/Irsan Mulyadi

Bisnis.com, JAKARTA - Tingkat kerusakan komoditas pertanian akibat buruknya penanganan logistik mencapai 40%. Hal ini berdampak pada tingginya biaya logistik.

Chairman Supply Chain Indonesia (SCI) Setijadi mengatakan penanganan logistik sangat penting di dalam pengelolaan komoditas pertanian. Tingkat kerusakan komoditas pangan tinggi karena sifat komoditas yang mudah rusak alias perishable.

"Tingkat kerusakan komoditas pertanian sekitar 30%-40% sehingga sangat berdampak terhadap ketersediaan dan harga komoditas pertanian," katanya kepada Bisnis pada Selasa (24/10/2017).

Akibatnya, biaya logistik komoditas pertanian menjadi tinggi terutama dalam proses pengangkutan, termasuk biaya akibat kerusakan komoditas.

Kerusakan, menurut Setijadi, sebenarnya terjadi baik dalam penanganan pada saat panen pasca-panen, penyimpanan di sentra pertanian, transportasi, dan penyimpanan di sentra pemasaran.

Oleh karena itu, penanganan logistik komoditas pertanian perlu dilakukan sesuai dengan karakteristik komoditasnya. Termasuk dengan penyiapan sistem, kelembagaan, dan infrastruktur pendukungnya.

Salah satu metode yang penting dalam peningkatan efisiensi logistik komoditas pertanian adalah penggunaan cold chain system yang harus diterapkan secara simultan pada rantai pasok komoditas tersebut di semua tingkatan, baik di tingkat produksi, distribusi, hingga pengecer.

Berkaitan dengan upaya perbaikan pengelolaan logistik komoditas pertanian, SCI merekomendasikan tujuh hal. Pertama, pemetaan rantai pasok dan saluran distribusi komoditas pertanian dari tingkat produksi hingga tingkat konsumsi. Kedua, penyiapan infrastruktur logistik berbasis komoditas.

Ketiga, pengembangan infrastruktur cold chain, termasuk pembangunan gudang cold storage dan penyediaan reefer plug di simpul-simpul distribusi dan transportasi, seperti di pelabuhan, terminal bongkar muat, dan sebagainya.

Keempat, revitalisasi prasarana pengelolaan komoditas pertanian seperti sub terminal agro (STA) di sentra produksi pertanian. Kelima, pembangunan sistem pergudangan di sentra pemasaran. Keenam, peningkatan kemampuan dan jaringan penyedia jasa logistik komoditas pertanian.

Ketujuh, ucap Setijadi, pengembangan sinergi antarkementerian dan lembaga serta antara pemerintah pusat dan pemerintah-pemerintah daerah dalam pengelolaan logistik komoditas pertanian.

Sementara itu Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia Kyatmaja Lookman mengatakan sampah di rantai pasok khususnya produk agro cukup tinggi. Penyebabnya adalah penanganan yang buruk selama pengangkutan.

"Hampir 70% [yang rusak]. Sayur dimuat di [mobil] pickup karena tidak dikemas dengan baik bawahnya rusak tertindih," ujarnya.

Menurutnya, jika dikemas dengan baik pasti kerusakannya tidak sebanyak itu. Banyaknya komoditas yang terbuang juga membuat keuntungan petani rendah. Selain itu, bahan bakar boros untuk mengirim produk yang akhirnya justru dibuang.

Tag : pertanian, logistik
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top