Gapki: Sawit Bisa Tekan Kebutuhan Lahan

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono mengatakan kebutuhan lahan akan perkebunan dapat ditekan jika permintaan minyak nabati dunia dipenuhi dari kelapa sawit.
Sri Mas Sari | 02 November 2017 12:26 WIB
Perkebunan kelapa sawit - Istimewa

Bisnis.com, BADUNG - Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono mengatakan kebutuhan lahan akan dapat ditekan jika permintaan minyak nabati dunia dipenuhi dari kelapa sawit.

Mengutip studi LMC International Ltd., dia menyebutkan permintaan minyak nabati dunia akan bertambah 50 juta ton jika populasi pada 2025 mencapai 8 miliar jiwa. Jika kebutuhan minyak nabati dipenuhi oleh minyak rapeseed saja, maka perlu tambahan lahan 50,5 juta hektare. Andaikan hanya dicukupi oleh minyak biji bunga matahari (sunflower), maka butuh ekspansi lahan 70,4 juta ha. Kebutuhan lahan bertambah besar jika permintaan dipasok dari minyak kedelai (soybean) saja, yakni 96 juta ha.

Namun, apabila sawit memenuhi kebutuhan itu, maka hanya dibutuhkan 12 juta ha penanaman baru. Bahkan, kebutuhan ekspansi itu bisa ditekan menjadi 6 juta ha jika produktivitas bisa ditingkatkan menjadi 8 ton CPO dan PKO per ha per tahun.

"Artinya, dengan memilih kelapa sawit, kita akan mengurangi kebutuhan lahan global dan dampak lingkungan hidup pun berkurang," katanya dalam International Palm Oil Conference (IPOC) 2017 di Nusa Dua, Bali, Kamis (2/11/2017).

Joko melihat peluang peningkatan yield ada pada perkebunan rakyat yang saat ini masih di bawah potensi. Padahal, luas lahan petani berkontribusi 50% terhadap total perkebunan sawit nasional.

Menurut Presiden Direktur PT Astra Agro Lestari Tbk. itu, peningkatan produktivitas perkebunan sawit rakyat tidak dapat hanya bergantung pada peremajaan tanaman (replanting), tetapi juga harus diikuti oleh perbaikan budaya kultivasi antara tanaman baru dan yang sudah ada. Oleh karena itu, kontribusi perusahaan diperlukan melalui kemitraan dengan petani agar peningkatan produktivitas terakselerasi.

"Kesuksesan partnership ini dalam meningkatkan yield palm oil akan menekan konversi lahan menjadi perkebunan sawit," tutur Joko.

Gapki memperkirakan produksi CPO tahun ini 36,5 juta ton, naik 4 juta ton dari realisasi tahun lalu. Ekspor CPO dan turunannya diestimasi 30 juta ton atau meningkat 20% dari angka tahun lalu. Performa itu menetapkan Indonesia sebagai produsen sekaligus eksportir CPO terbesar dunia.

Dalam kesempatan itu, Gapki juga mengajukan proposal berisi tiga permintaan. Pertama, pemerintah harus memperluas pasar dan kerja sama perdagangan dengan negara tujuan ekspor, termasuk pasar nontradisional, guna mempertahankan posisi Indonesia sebagai pemimpin pasar CPO.

Kedua, untuk mengerek daya saing, pemerintah harus memperbaiki iklim investasi dan menjaga kepastian usaha, misalnya dengan menyederhanakan regulasi.

Ketiga, Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO) harus diperkuat, khususnya terkait penataan institusi, tata kelola pemerintahan, dan sumber daya, sehingga ISPO lebih kredibel dan diakui secara internasional.

 

Tag : cpo, kelapa sawit
Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top