Cupping, Cara KBRI Korsel Rayu Calon Pembeli Kopi dari Berbagai Negara

Ada berbagai cara untuk merayu pembeli. Ini pula yang dilakukan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Seoul, Korea Selatan.
Stefanus Arief Setiaji | 11 November 2017 14:54 WIB
Pekerja menyortir biji kopi sebagai komoditas ekspor ke Jepang, Kanada, Hongkong, dan Italia di Pabrik Kopi Banaran milik PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IX, Jambu, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Kamis (27/7). - ANTARA/Aditya Pradana Putra
Bisnis.com, JAKARTA — Ada berbagai cara untuk merayu pembeli. Ini pula yang dilakukan Kedutaan Besar Republik  Indonesia (KBRI) di Seoul, Korea Selatan. 
 
Selama dua hari, pada 9-10 November 2017, divisi perdagangan KBRI ikut memeriahkan Cafe Show 2017 di Seoul yang diikuti puluhan negara. 
 
Satu produk yang ditawarkan yakni kopi. Dalam kegiatan ini, KBRI merayu para buyer kopi dengan cara “cupping” bagi Q-grader.
 
Semua peserta beratraksi merayu agar importir kopi Korsel berminat membeli mereka.
 
Tidak main-main, Indonesia yang dikenal dengan kopi Robusta dan Arabicanya, kali ini melakukan "cupping",  atau mempersilakan para Q-grader mencicipi kopi dari beberapa perusahaan yang hadir. 
 
Bagi yang tertarik maka dapat segera melakukan negosiasi harga dan memesan berapa kontainer kopi yang akan dibeli.
 
Q-grader adalah orang-orang ahli kualitas kopi bersertifikat yang pekerjaanya hanyalah icip-icip kopi. 
 
Bukan untuk diminum, namun hanya dirasakan sesaat. Ia menikmati kopi yang sudah diseduh dengan cara cepat sehingga semua aromanya memasuki memasuki rongga mulut hingga tenggorokan.
 
Para Q-grader biasanya sudah tahu persis seluk beluk kopi Arabica dan Robusta. Bahkan, dengan melakukan cupping maka akan langsun tahu kandungan khas yang ada dalam kopi. Apakah itu aroma buah, madu atau lainnya. 
 
“Bila kopi diminum dengan cara biasa maka yang terasa hanya manis, pahit, asam dan asin,” ujar Syafrudin, Presiden Asosiasi Ahli Kopi Indonesia.
 
Menurut Atase Perdagangan KBRI Seoul, Aksamil Khair, "cupping"  dilakukan sebagai salah satu metode menembus pasar Korea Selatan yang kini penuh persaingan. 
 
Terdapat 11 perusahaan Indonesia yang ikut dalam pameran kali ini untuk bersaing dengan  produsen kopi dari berbagai negara.
 
“Sekarang tidak lagi urusan jual kopi berkualitas. Namun harus bisa mengenalkan detail aroma kopi khas Indonesia. Untuk inilah kita perlukan cupping,” katanya. 
 
Puluhan Q-grader senantiasa mengantre untuk melakukan cupping kopi Indonesia. 
 
Dalam sehari hanya disediakan waktu kisaran dua jam bagi para ahli untuk icip-icip. Rekomendasi para ahli itulah yang ditindaklanjuti oleh para importir.
 
Untuk menjadi Q-grader, seseorang bisa kursus di laboratorium grader yang ada di Bandung atau Jakarta. 
 
Sekali kursus harus merogoh kantong antara Rp15 juta—Rp20 juta.  Kalau gagal bisa mengulang dengan biaya Rp2 juta rupiah per materi. Saat ini di Indonesia baru ada 400-an Q-grader. Anda tertarik? 
Tag : korsel
Editor : Stefanus Arief Setiaji

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top