GAYA BELANJA 2018: Konsumen Usia Ini Paling Optimistis

Perhimpunan Riset Pemasaran Indonesia (Perpi) menginisiasi sebuah riset mengenai Indonesia Market Behavior Outlook 2018.
Amanda Kusumawardhani | 15 November 2017 23:44 WIB
Ilustrasi. - .

Bisnis.com, JAKARTA- Perhimpunan Riset Pemasaran Indonesia (Perpi) menginisiasi sebuah riset mengenai ‘Indonesia Market Behavior Outlook 2018’.

Riset tersebut dilakukan atas kerja sama dengan sejumlah konsultan yakni Nielsen Indonesia, Deka Marketing Research, KAD Research, dan KantarWorldpanel ini dilakukan dalam rentang waktu kuartal III dan IV tahun ini dan berusaha untuk membedah perilaku konsumen terkait harapan mereka terhadap situasi terkini.

Yang menarik, konsumen dengan rentang usia 30-34 tahun yang tinggal di semua wilayah di Indonesia kecuali Kalimantan terbukti paling optimistis terhadap situasi tahun mendatang. Alhasil, kelompok ini memiliki pola konsumsi cukup tinggi dibandingkan dengan segmen usia lainnya.

Lebih khususnya, kelompok ini berada pada segmen socio economic status (SES) A2 dengan kisaran pendapatan berkisar Rp7 juta-Rp11 juta. Meski cukup dominan dalam berkonsumsi, kelompok ini hanya berkontribusi 11% dari total populasi.

“Kelompok ini sering disebut dengan yuppies yang berarti anak muda dengan gaji cukup layak gaya hidup yang fashionable. Yang masuk dalam kelompok ini biasanya adalah anak muda yang baru bekerja di tahun-tahun awal dan mengedepankan nilai dibandingkan harga,” kata Yanti Nisro, Ketua Umum Perpi.

Dia menyebutkan yuppies ini juga termasuk kalangan yang sudah terpapar dengan gaya hidup digital, mengedepankan kebebasan, paham akan nilai kesehatan, dan melek investasi. Berdasarkan riset Perpi, beberapa segmen konsumsi yang diminati oleh kalangan yuppie antara lain paket data, telepon pintar, kuliner, residensial, pendidikan, kesehatan, dan liburan.

Sementara itu, kalangan dengan SES B dengan kisaran pendapatan Rp2,8 juta-Rp4,25 juta dan SES C dengan pendapatan mulai dari Rp1,4 juta-Rp2,8 juta yang memiliki kontribusi masing-masing 48% dan 20% terhadap total populasi justru diprediksi bakal menahan konsumsinya tahun depan.

Hal tersebut dikarenakan kalangan ini masih bergantung terhadap insentif pemerintah misalnya kucuran Kredit Usaha Rakyat (KUR), dana alokasi umum, dana alokasi khusus, dan dana desa yang belum sepenuhnya cair ke kalangan ini.

Tag : belanja
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top