DANA HIBAH SEKTOR EKONOMI KREATIF: Bekraf Kucurkan Rp600 Miliar Tahun Depan

Badan Ekonomi Kreatif berencana menyalurkan hibah kepada pelaku sektor ekonomi kreatif mencapai Rp600 miliar dengan maksimal pemberian Rp200 juta tiap pelaku usaha pada tahun depan.
Amanda Kusumawardhani | 05 Desember 2017 13:37 WIB
. - .bekraf.go.id

Bisnis.com, JAKARTA— Badan Ekonomi Kreatif berencana menyalurkan hibah kepada pelaku sektor ekonomi kreatif mencapai Rp600 miliar dengan maksimal pemberian Rp200 juta tiap pelaku usaha pada tahun depan.

Hanifah, Kesubdit Dana Masyarakat Direktorat Akses Non Perbankan Deputi Akses Permodalan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) mengatakan pihaknya belum memutuskan mekanisme pemberian dana hibah tersebut.

“Tahun ini, dana hibah diberikan dalam bentuk uang tunai. Untuk tahun depan, kami belum memutuskan apakah hibah tersebut akan disalurkan dalam bentuk uang ataupun barang,” jelasnya kepada Bisnis.

Tak berbeda dengan tahun lalu, Hanifah mengemukakan para pelaku ekonomi kreatif hanya perlu mengumpulkan proposal bisnis yang berisi mengenai rencana bisnis dan kondisi bisnisnya saat ini.

Lebih lanjut, pelaku ekonomi kreatif yang mendaftar program ini dibatasi dengan minimal keberlangsungan usaha selama 1 tahun. Jika lama usaha belum mencapai 1 tahun, dia menyatakan cukup sulit untuk memprediksi prospek usahanya karena pada masa kurang dari 1 tahun, segmen pasar diakuinya belum terlihat.

“Jumlah pemberian hibah juga tidak ditentukan, tetapi alokasinya masih sama dengan tahun lalu yakni maksimal Rp200 juta tiap pelaku usaha. Pemberian hibah akan ditentukan sesuai dengan skala bisnis dan rencana bisnis berdasarkan proposal yang dikumpulkan,” jawabnya.

Pada tahun ini, Bekraf telah menyalurkan dana hibah senilai Rp600 miliar kepada 34 pelaku bisnis usaha rintisan.

Di saat yang sama, Bekraf juga baru saja meluncurkan Ekraf Investment Readiness Level (ERL) untuk subsektor fesyen, kriya, aplikasi dan pengembang permainan, serta kuliner. ERL sendiri merupakan acuan yang digunakan untuk mengukur kesiapan inovasi di keempat subsektor tersebut sekaligus mengantisipasi langkah inovasi, siklus hidup teknologi, dan persaingan pasar.

“Baru empat sektor ini yang memiliki tolak ukur, sedangkan subsektor lainnya misalnya film dan musik belum. Dua sektor ini membutuhkan penilaian lebih dalam karena memiliki siklus ekonomi yang sangat berbeda dibandingkan keempat sektor itu [fesyen, kuliner, kriya, aplikasi dan pengembang permainan],” tambahnya.

Dalam hal ini, Bekraf berharap ERL mampu menjadi acuan bagi investor untuk menanamkan modalnya ke pelaku usaha kreatif. ERL juga menjadi ajang penilaian bagi bisnis kreatif sehingga pelaku bisnis bisa mengukur kesiapannya dalam menerima investasi.

Beberapa tahun belakangan, Bekraf mecatat sejumlah lembaga nonperbankan misalnya angel investor, investor filantropi, dan modal ventura mulai agresif mendekati pelaku bisnis rintisan.

“Yang paling terlihat agresif adalah modal ventura dan investor filantropi. ERL ini diharapkan dapat menjadi gambaran bagi investor yang ingin menanamkan modalnya di ekonomi kreatif. Jadi mereka bisa menilai skala ekonomi dari bisnis kreatif melalui acuan pada ERL,” tukasnya.

Tag : Bekraf
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top