MINIMARKET: 2018, Ini Strategi Bisnis Andalan Alfamart

Marketing Director Sumber Alfaria Trijaya (AMRT) Ryan Alfons Kaloh mengatakan mulai tahun depan pihaknya akan mengkustomisasi toko-toko yang ada, di sisi produk yang dijual. Dengan demikian, barang-barang yang tersedia di satu daerah akan berbeda dengan yang dijual di wilayah lain, tergantung pada profil pelanggan.
Annisa Margrit | 07 Desember 2017 17:11 WIB
Gerai Alfamart. - .Bisnis/Endang Muchtar

 

JAKARTA-- .Marketing Director Sumber Alfaria Trijaya (AMRT) Ryan Alfons Kaloh mengatakan mulai tahun depan pihaknya akan mengkustomisasi toko-toko yang ada, di sisi produk yang dijual. Dengan demikian, barang-barang yang tersedia di satu daerah akan berbeda dengan yang dijual di wilayah lain, tergantung pada profil pelanggan.

"Disesuaikan dengan konsumennya. Kalau di Jakarta mungkin susu harga Rp200.000  bisa laku, tapi kalau di daerah lain mungkin tidak bisa dipaksakan. Ngapain? Sama-sama rugi. Dari supplier kena retur, konsumen rugi, dan kami juga jadi beban stok," papar dia di sela-sela Markplus Conference 2018, Kamis (7/12/2017).

Ryan belum bisa memastikan kapan tepatnya program itu bakal dimulai. Yang jelas, perubahannya akan dilakukan secara bertahap karena jumlah gerai Alfamart sudah mencapai lebih dari 13.168 unit.

Transformasi tersebut masih dari sisi produk yang ditawarkan, belum menyentuh aspek desain gerai. Perseroan menyatakan saat ini masih dilakukan kesiapan infrastruktur, sistem, serta pembicaraan dengan pemasok.

Perubahan ini menjadi salah satu strategi yang dijalankan Alfamart untuk menjaga relevansi dengan konsumen, sekaligus mengurangi beban inventori alias beban stok. Apalagi, sektor ritel Tanah Air masih mengalami perlambatan pertumbuhan.

Untuk mendukung rencana tersebut, perseroan menggunakan basis data transaksi yang sudah dikumpulkan. Saat ini, pelanggan yang memiliki keanggotaan di Alfamart sudah mencapai 8,5 juta orang. Per harinya, tercatat terdapat 4 juta konsumen yang bertransaksi di jaringan minimarket itu.

"Sekarang, sekitar 20%-22% transaksi datang dari member. Tetapi, jumlah member kami masih jauh di bawah membership ritel di negara-negara lain," terang Ryan.

Sebagai perbandingan, dia menyebut program keanggotan ritel di Brazil sudah mencapai 100 juta orang dan di Australia sekitar 25% penduduknya sudah menjadi anggota perusahaan ritel.

Namun, Alfamart tidak menyampaikan target jumlah keanggotan dan hanya menyampaikan akan memaksimalkan jumlah anggota eksisting.

Hal lain yang dilaksanakan adalah melanjutkan pengembangan dan penetrasi di sisi digital. Selain memiliki platform sendiri seperti Alfa Gift, perseroan juga bekerja sama dengan pihak lain yaitu Line.

Dari promo yang dibagikan lewat berbagai platform digital, baik berupa potongan harga atau kupon voucher, lebih dari 150 juta di antaranya digunakan oleh konsumen. Kontribusi penjualannya diklaim mencapai Rp450 miliar.

"Konsumen yang belanja menggunakan voucher digital volume keranjangnya (basket size) bisa 5 kali lipat dibandingkan yang belanja tanpa voucher. Jadi, efektivitasnya sangat besar," ungkap dia.

Berdasarkan laporan keuangan kuartal III/2017, perseroan membukukan pendapatan senilai Rp45,6 triliun atau naik 10,22% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sekitar Rp41,37 triliun.

Pekan depan, rencananya Alfamart juga bakal meluncurkan kembali Alfa Gift versi terbaru. Aplikasi itu disebut memiliki fitur-fitur baru dan dikombinasikan dengan sistem membership yang sudah ada.

Pemanfaatan teknologi dan digitalisasi disebut sebagai hal yang sangat penting. Pasalnya, dalam beberapa tahun mendatang generasi milenial akan makin mendominasi. Jika peritel tidak bisa mendekati dan menggarap segmen ini, maka pasti bakal tertinggal.

Di sisi lain, Alfamart mengaku belum berencana mencari pasar lain di luar negeri. Saat ini, negara yang sudah menjadi sasaran ekspansi baru Filipina. Jumlah gerai di negara itu telah mencapai 340 unit. 

Tag : alfamart
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top