Inilah Alasan Harga Minyak Terus Menguat ke US$60 per Barel

Sejak menyentuh titik terendah selama 12 tahun terakhir, yaitu pada Januari 2016 sebesar US$27 per barel, kini harga minyak mentah Indonesia terus menguat hingga US$59,34 per barel.
Sepudin Zuhri | 07 Desember 2017 09:45 WIB
Awak mobil tangki (AMT) bersiap melakukan pengisian bahan bakar minyak ke dalam mobil tangki Pertamina di Terminal BBM Jakarta Group Plumpang, Jakarta Utara, Senin (27/11). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA — Sejak menyentuh titik terendah selama 12 tahun terakhir, yaitu pada Januari 2016 sebesar US$27 per barel, kini harga minyak mentah Indonesia terus menguat hingga US$59,34 per barel.

Harga rata-rata harga minyak mentah Indonesia (Indonesian crude price/ICP minyak mentah Indonesia pada November 2017 mencapai US$59,34 per barel, naik US$5,33 per barel dibandingkan dengan bulan sebelumnya US$54,02 per barel.

Perkembangan harga rata-rata minyak mentah Indonesia ini sejalan dengan harga minyak mentah utama di pasar internasional pada November 2017.

Berdasarkan data Kementerian ESDM, minyak mentah jenis Brent naik sebesar US$5,26 per barel dari US$57,36 per barel menjadi US$62,62 per barel.

Minyak mentah jenis WTI (Nymex) naik sebesar US$5,07 per barel dari US$51,59 per barel menjadi US$ 56,66 per barel.

Rata-rata harga minyak yang diproduks oleh anggota Organisasi Negara Eksportir Minyak (OPEC) yang sering disebut dengan Basket OPEC juga mengalami kenaikan US$5,24 per barel dari US$55,50 per barel menjadi US$60,74 per barel.

Peningkatan harga minyak mentah utama di pasar internasional ini disebabkan oleh beberapa factor, yakni negara-negara OPEC memperpanjang kesepakatan untuk membatasi produksi hingga 2018, pada pertemuan yang diadakan pada 30 November 2017.

Selain itu, berdasarkan publikasi OPEC November 2017, produksi minyak mentah dari negara-negara OPEC pada Oktober 2017 turun sebesar 0,15 juta barel per hari (bph) menjadi sebesar 32,59 juta bph dibandingkan dengan bulan sebelumnya 32,74 juta bph.

Proyeksi permintaan minyak mentah global tahun ini naik 0,14 juta bph pada proyeksi November 2017 menjadi 96,94 juta bph, dari proyeksi bulan sebelumnya 96,80 juta bph.

Jumlah peralatan pengeboran minyak (rig) di Amerika Serikat pada November 2017 turun sebesar 38 rig menjadi sebesar 898  dibandingkan dengan Oktober 2017 sebanyak 939 rig.

Proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini naik sebesar 0,1% pada proyeksi November 2017 menjadi sebesar 3,7%, dari proyeksi Oktober 2017 yaitu 3,6%.

Faktor lainnya, berdasarkan publikasi Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) pada November 2017, komitmen negara-negara non-OPEC untuk membatasi produksi mencapai 107% pada Oktober 2017.

Berdasarkan laporan Biro Informasi Energi AS, tingkat stok minyak mentah komersial AS selama November 2017 (sampai Minggu ke-4) mengalami penurunan dibandingkan dengan stok pada bulan sebelumnya.

Penyebab lainnya adalah pengaliran minyak melalui pipa dari Kanada menuju Amerika Serikat yang selama ini sekitar 560.000 bph mengalami gangguan akibat kebocoran pada pipa. Hal ini mengakibatkan, volume minyak yang disuplai dari Kanada kepada AS sampai akhir November 2017 hanya mencapai 15% dari volume normal. Hal ini berlangsung hingga waktu yang belum dapat ditentukan.

Untuk kawasan Asia Pasifik, peningkatan harga minyak mentah juga dipengaruhi antara lain oleh meningkatnya risiko geopolitik di Timur Tengah antara Arab Saudi dan Iran. Selain itu, juga terdapat ketidakstabilan politik dalam negeri di Arab Saudi.

Faktor lainnya, Arab Saudi mengurangi ekspor minyak mentah hingga sebesar 120.000 bph dibandingkan ekspor pada Oktober 2017 dan gempa bumi yang terjadi di Iran dan Irak pada 12 November 2017 menyebabkan terganggunya produksi minyak mentah dari kedua negara tersebut.

Tag : Harga Minyak
Editor : Sepudin Zuhri

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top