Keamanan Penerbangan, AP I Tingkatkan Kualitas SDM

PT Angkasa Pura I (Persero) mengungkapkan tantangan utama dalam keamanan penerbangan dengan konsep smart airport adalah peningkatan kualitas SDM.
Gloria Fransisca Katharina Lawi | 07 Desember 2017 19:11 WIB
Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta di Tangerang, Banten. - Antara/Ahmad Subaidi

Bisnis.com, JAKARTA - PT Angkasa Pura I (Persero) mengungkapkan tantangan utama dalam keamanan penerbangan dengan konsep smart airport adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).

Airport Security Head PT Angkasa Pura I Dony Subardono mengatakan saat ini kendala dalam pengembangan security system di bandara adalah kapasitas SDM yang harus melek teknologi.

Selain itu, syarat utama lain adalah SDM di security system airport harus bisa terintegrasi dengan management system kebandarudaraan.

"Tidak semua pihak dalam security system kebandarudaraan ini memahami bahwa harus terintegrasi dengan management system," jelas Dony.

Menurut dia, saat ini diperlukan SDM yang memiliki inisiatif tinggi dalam merespon problem-problem security dan safety dalam penerbangan. Dengan demikian, sistem kebandarudaraan menjadi lebih efisien.

Dia mengatakan saat ini semua bandara yang dikelola oleh AP I telah mengikuti standar internasional yaitu Airport Council International (ACI).

Konsisten layanan sesuai standar inilah yang juga berkontribusi bagi Kementerian Perhubungan hingga berhasil meraih kenaikan peringkat pada ICAO Coordinated Validation Mission (ICVM) yang dilakukan pada 10-18 Oktober 2017.

Audit itu menghasilkan nilai keselamatan Indonesia mencapai 81,15%, melampaui nilai rata-rata pemenuhan standar keselamatan penerbangan dunia yang berada pada batas 64,71%.

Pada 2016 Indonesia mendapatkan nilai 51,61% kemudian tahun ini meningkat signifikan menjadi 81,15%. Hal ini merupakan bukti kerja nyata yang dilakukan oleh seluruh stakeholder penerbangan di tanah air. "Bagus, makanya kami akan melakukan peningkatan terus," ujar Dony.

Director of Corporate Safety Indonesia AirAsia Captain Achmad Sadikin menyatakan keamanan penerbangan harus ditingkatkan melalui kerja sama lintas stakeholder, khususnya operator bandara, maskapai penerbangan, dan sir traffic system dalam hal ini adalah Perusahaan Umum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan (Perum LPPNPI)/AirNav Indonesia.

"Penerbangan adalah bisnis yang high risk, high investment, maka harus bekerja sama baik atau kolaborasi lintas stakeholder," ucap Sadikin.

Direktur Keselamatan, Keamanan, dan Standardisasi AirNav Indonesia Yurlis Hasibuan mengatakan kerjasama tersebut terlaksana cukup baik selama ini.

Salah satu buktinya adalah kala letusan Gunung Agung di Bali pekan lalu, AirNav Indonesia aktif melakukan pemantauan cuaca dan memberikan informasi akurat kepada operator bandara untuk ditutup dan memberhentikan penerbangan.

"Kami aktif memberi informasi dan update terbaru soal kondisi cuaca guna memberhentikan penerbangan," tutur Hasibuan.

Tag : angkasa pura i
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top