Asumsi Pertumbuhan Konsumsi LPG Tabung Melon dalam APBNP Dinilai Terlalu Rendah

Asumsi pertumbuhan konsumsi liquefied petroleum gas (LPG) ukuran 3 kilogram untuk 2017 yang ditetapkan dalam anggaran pendapatan dan belanja negara setelah perubahan (APBNP) dianggap terlalu rendah yakni sekitar 2% hingga 3% dari seharusnya melebihi 5%.
Duwi Setiya Ariyanti | 08 Desember 2017 17:31 WIB
Warga membeli tabung elpiji 3 kilogram di Palu, Sulawesi Tengah, Rabu (15/3). - Antara/Basri Marzuki

Bisnis.com, JAKARTA--Asumsi pertumbuhan konsumsi liquefied petroleum gas (LPG) ukuran 3 kilogram untuk 2017 yang ditetapkan dalam anggaran pendapatan dan belanja negara setelah perubahan (APBNP) dianggap terlalu rendah yakni sekitar 2% hingga 3% dari seharusnya melebihi 5%.

Direktur Pembinaan Usaha Hilir Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Harya Adityawarman mengatakan hingga saat ini pihaknya tak membatasi peredaran LPG 3 kg yang masih disubsidi. Dia menyebut, asumsi pertumbuhan konsumsi LPG 3 kg yang ditetapkan dalam APBNP 2017 lebih rendah dibandingkan dengan realisasi pada 2015 dan 2016.

Untuk 2017, katanya, pihaknya telah menetapkan sekitar 7 juta ton pada APBN 2017. Kendati demikian, angka itu direvisi dalam APBNP 2017 menjadi 6,5 juta ton. Namun, dari usulan 6,5 juta ton itu, hanya 6,19 juta ton yang ditetapkan.

Berdasarkan data penyaluran harian LPG 3 kg bersubsidi, hingga akhir November 2017, realisasi penyaluran LPG 3 kg bersubsidi telah mencapai 5,750 juta MT, atau 93% dari kuota yang ditetapkan pada APBN-P 2017 sebesar 6,199 juta MT. Sampai dengan akhir Desember 2017, penyaluran LPG 3 kg bersubsidi diperkirakan akan melebihi kuota sekitar 1,6% di atas kuota APBN-P 2017 tersebut.

"Secara nasional kita kuotanya, APBNP 2017 lebih rendah. Kalau kita lihat pertumbuhan dibandingkan dengan 2016 sebesar 2%, dan 3% padahal harusnya di atas 5%. Pada 2015-2016 saja 10%. Jadi itu kemungkinan ada overkuota 2017," ujarnya di Jakarta, Jumat (8/12/2017).

Direktur Pemasaran Pertamina Muchammad Iskandar mengatakan pihaknya telah menyalurkan pasokan LPG 3 kg melebihi kebutuhan rata-rata harian. Sebagai gambaran, dia menyebut dari rata-rata konsumsi harian sebesar 20.000 ton, saat ini, pihaknya mendistribusikan sekitar 23.000 hingga 24.000 ton agar ketersediaan merata.

Terlebih, pada 18 Desember hingga 7 Januari, masuk masa kritis ketika kebutuhan meningkat karena perayaan Natal dan Tahun Baru. Menurutnya, sejak awal Desember, pihaknya telah melakukan operasi pasar di 28 lokasi dengan 557.240 ton untuk mengatasi kelangkaan di beberapa titik.

"Skenario sudah kita lakukan, sehingga kita kucurkan kebih dari rata-rata harian. Posisi normal 20.000 ton ini kita sudah [distribusikan] 23.000-- 24.000 ton sampai situasi reda," katanya.

 

 

Tag : lpg
Editor : Rahayuningsih

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top