Blok East Kalimantan & Attaka Dilelang Januari 2018

Pemerintah akan melelang Blok East Kalimantan dan Attaka pada Januari 2018.
Duwi Setiya Ariyanti | 08 Desember 2017 19:14 WIB
Ilustrasi kilang pengolahan minyak - Reuters/Darren Whiteside

Bisnis.com, JAKARTA - Pemerintah akan melelang Blok East Kalimantan dan Attaka pada Januari 2018.

Dirjen Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ego Syahrial memperkirakan pihaknya akan melelang blok unitisasi East Kalimantan dan Attaka di Kalimantan Timur pada awal Januari 2018.

Dia menyebutkan saat ini dokumen lelang masih dipersiapkan. "Attaka mungkin awal Januari-an ya [mulai lelang]. Kita sedang siapkan bid document-nya," ujarnya di Jakarta pada Jumat (8/12/2017).

Ego Syahrial  menyatakan perlu komitmen investor untuk menjaga bahkan menaikkan produksi di kedua blok itu. Pasalnya, dua blok tersebut sudah berumur.

Dia mengaku belum mengetahui detail syarat dan ketentuan (terms&conditions/T&C). Pastinya, menurut dia, untuk mengelola blok tersebut diperlukan investor yang memiliki kemampuan finansial dan teknologi agar bisa menjaga produksi.

Terlebih, terdapat beban untuk menanggung biaya kewajiban pascatambang atau abandonment and site restoration (ASR) yang diatur dalam kontrak kerja sama sebelum 2018.

Blok East Kalimantan dioperatori Chevron Indonesia Company dengan kepemilikan saham partisipasi sebesar 50% dan sisanya Inpex. Namun, pada 2016, Chevron telah menyatakan tak akan memperpanjang blok tersebut dan mengembalikannya kepada pemerintah.

Blok Attaka berakhir kontraknya pada 31 Maret 2017 dan East Kalimantan berakhir pada 24 Oktober 2018.

Dari data Pertamina, produksi Blok East Kalimantan pada 2016 sebesar 36.500 barel setara minyak per hari (barrel oil equivalent per day/boepd). Blok seluas 6.177 kilometer persegi (km2) itu menyimpan cadangan 213 juta barrel of oil equivalent (BOE) pada 2015.

Produksi Blok Attaka yang terletak di lepas pantai Kaltim pada 2015 sebesar 4.900 BOE per hari (boepd) dan cadangannya 2,4 juta BOE. Blok yang akan berakhir 2017 itu pernah mencapai produksi puncak 110.000 barel per hari (bph) dengan produksi kumulatif di 2001 sebesar 600 miliar barel.

"Saya terus terang belum tahu ya. Secara logikanya saja, harus punya kemampuan finansial yang kuat, harus punya teknnologi, semua," kata Ego Syahrial.

Lelang, katanya, akan terbuka bagi seluruh perusahaan. Meskipun PetroChina pernah menyatakan untuk minat, pihaknya, tidak akan memprioritaskan perusahaan asal China itu. "Enggak dong. Terbuka untuk semua," lanjutnya.

Tag : blok migas
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top