Target Pengoperasian Jalan Tol 2017 Sulit Tercapai. Apa Penyebabnya?

Target pengoperasian jalan tol sepanjang 379,20 kilometer tahun ini sepertinya tidak akan tercapai karena realisasi sampai dengan pekan pertama Desember 2017 baru 37,80%. Apa penyebab utamanya?
Yanita Petriella | 08 Desember 2017 12:36 WIB
Presiden Joko Widodo (keempat kiri) didampingi Menteri PUPR Basuki Hadimuljono (kedua kiri), Menteri BUMN Rini Soemarno (ketiga kanan), menekan tombol bersama saat peresmian Jalan Tol Soreang - Pasir Koja (Soroja) di Soreang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Senin (4/12). - ANTARA/M Agung Rajasa

Tahun 2017 hampir berakhir. Tinggal menghitung hari. Namun, target pengoperasian jalan tol baru selama tahun ini sepanjang 379,20 kilometer, mencakup 21 ruas, yang dicanangkan pemerintah tampaknya sulit dicapai.

Sampai dengan minggu pertama Desember 2017, realisasi pengoperasian jalan tol, baru 143,57 kilometer atau 37,80%.

Dengan kata lain, dengan sisa waktu kurang lebih 3 minggu ini, pemerintah dalam hal ini Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat tengah mengejar penyelesaian pembangunan jalan tol sepanjang 235,63 kilometer.

Membangun sebuah jalan bebas hambatan bukan perkara mudah. Segala persoalan teknis maupun nonteknis kerap kali terjadi dalam pembangunannya.

Mulai dari sulitnya pembebasan lahan, penyediaan dana untuk mengganti lahan masyarakat, anggaran untuk membiayai konstruksi tol hingga faktor cuaca yang menjadi kendala membangun jalan tol.

Kepala Badan Pengatur Jalan Tol Kementerian PUPR Herry Trisaputra Zuna tak menampik masih sedikitnya jalan tol yang beroperasi hingga saat ini akibat faktor cuaca yang menjadi hambatannya.

Cuaca ekstrem, angin dan hujan lebat, yang tak bisa diprediksi berpengaruh pada timbunan tanah dan proses konstruksi yang tengah berlangsung.

Tak hanya itu, meskipun pemerintah melalui Lembaga Manajemen Aset Negara (LMAN) telah mengalokasikan dana talangan pembebasan lahan, hal itu tak serta merta membuat pembebasan lahan jalan tol berjalan mulus.

Butuh waktu yang lama untuk membebaskan sebuah lahan khususnya bagi urusan pembebasan lahan yang masuk ke ranah pengadilan.

Setelah, pada Senin (4/12), jalan tol Soreang–Pasirkoja Seksi 1–2 sepanjang 10,57 kilometer dioperasikan, pemerintah besiap untuk mengoperasikan jalan tol Surabaya–Mojokerto seksi IB 3 (Sepanjang–Krian) 15,47 kilometer.

Sementara itu, untuk ruas lain yang ditargetkan dapat selesai dan beroperasi pada tahun ini masih terus dikejar.

Ruas-ruas tersebut yakni Bakauheni–Terbanggi Besar Paket 1 (segmen 1C Pelabuhan Bakauheni) 8,90 kilometer, Bakauheni–Terbanggi Besar Paket 2 (Segmen Kotabaru–Lematang) 5,03 kilometer, Solo–Mantingan–Ngawi 87,90 kilometer, Pejagan–Pemalang Seksi 3–4 (Brebes Timur–Pemalang) 37,30 kilometer, Ngawi–Kertosono Seksi 1–3 (Ngawi–Wilangan) 52,57 kilometer, Batang–Semarang Seksi 1 (Batang–Batang Timur) 3,20 kilometer.

Selain itu, ada ruas tol Palembang–Indralaya Seksi 2–3 (Pamulatan–Simpang Indralaya) 14,80 kilometer, Cinere–Jagorawi Seksi 2 (Raya Bogor–Kukusan) 5,50 kilometer, Ciawi–Sukabumi Seksi 1 (Segmen Ciawi–Caringin) 7,30 kilometer, dan Pemalang–Batang (Sewaka–1C Pemalang) 6 kilometer.

"Untuk ruas tol Cinere–Jagorawi, tanahnya masih belum beres. Pembebasannya saat ini 96,90%, tetapi ada beberapa lokasi yang belum bebas. Kami lihat evaluasi, masih ada waktu, kami berupaya untuk menyelesaikannya," tuturnya.

Herry pun tak menampik untuk beberapa ruas yang sebelumnya direncanakan beroperasi pada bulan ini, diperkirakan mengalami keterlambatan penyelesaian konstruksi karena sejumlah faktor terutama akibat pembebasan lahan.

Kendati demikian, dia tetap berharap agarbeberapa ruas tol yang mengalami keterlambatan penyelesaian dapat beroperasi pada kuartal pertama 2018.

"Semua dikebut kami coba target plot pada 2017, dengan asumsi progres tanah berjalan. Pada tahap awal, kalau tanahnya cepat tinggal sisa waktu ini, tentu kami kejar pada Desember," ucapnya.

Meskipun nantinya ada ruas yang tidak dapat diselesaikan pada tahun ini, pihaknya terus mempercepat pembangunan konstruksinya agar target 1.852 kilometer hingga akhir 2019 dapat tercapai.

"Kami terus kawal pembebasan lahannya. Tidak hanya tanah, tetapi progres konstruksinya sehingga meski tidak bisa selesai pada 2017 ini, tetap bisa dijaga target 2019-nya," kata Herry.

RPJMN 2015–2019

Di dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015–2019, jalan tol yang ada di Indonesia saat ini mencapai 1.000 kilometer. Kementerian PUPR pun optimistis pada akhir 2019 akan terdapat 1.852 kilometer jalan tol yang selesai dan beroperasi.

Memang, pemerintah membuat asumsi target panjang jalan tol yang akan dicapai setiap tahun mulai dari 2015 hingga nanti pada 2019.

Strategi yang dilakukan dengan membuat target pembangunan jalan tol minimal 200 kilometer jalan tol baru setiap tahun.

Berdasarkan catatan Bisnis, pada 2016 lalu, pemerintah nyatanya gagal mencapai target operasional ruas tol terbangun dan beroperasi sepanjang 136,13 kilometer.

Kendati target tersebut sempat direvisi menjadi 90 kilometer, tetapi konstruksi ruas tol yang berhasil diselesaikan baru sepanjang 43,92 kilometer.

Akibatnya, sisa target pengoperasian jalan tol yang tidak tercapai pun dialihkan pada tahun ini.

Akan tetapi, apabila target tahun ini kembali tak dapat dicapai, tentu menjadi pekerjaan rumah pemerintah untuk mengebut dan bahkan dibutuhkan usaha keras agar target 1.852 kilometer pada 2019 yang menjadi akhir masa Pemerintahan Presiden Joko Widodo. (B)

Tag : jalan tol, badan pengatur jalan tol
Editor : Zufrizal

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top