Pemerintah Genjot Hilirisasi Tiga Sektor Industri

Pemerintah tengah memacu hilirisasi pada tiga sektor industri untuk menekan laju pertumbuhan impor.
N. Nuriman Jayabuana | 11 Desember 2017 18:23 WIB
Menko Perekonomian Darmin Nasution menyampaikan paparan dalam acara Digital Economic Briefing, di Jakarta, Kamis (16/11). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA—Pemerintah tengah memacu hilirisasi pada tiga sektor industri untuk menekan laju pertumbuhan impor.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution berpendapat hilirisasi merupakan upaya untuk menahan pesatnya laju pertumbuhan impor karena pesatnya pertumbuhan impor kerap menyebabkan pelebaran defisit transaksi berjalan (current account deficit).

Pola seperti itu, ujarnya, sering terjadi pada era orde baru tatkala pertumbuhan impor jauh berada di atas laju pertumbuhan ekonomi nasional.

“Pertumbuhan tinggi tapi sebentar-sebentar overheated, karena pertumbuhan impor jauh lebih cepatBertolak dari pengalaman itu, pemerintah melihat tiga sektor hulu industri yang mesti mulai dikembangkan, agar impor tidak melonjak saat pertumbuhan naik,” ujarnya di sela-sela seminar nasional outlook industri 2018 di Jakarta, Senin (11/12).

Darmin menyatakan pemerintah tengah memfokuskan hilirisasi pada tiga kelompok industri pengolahan. Tiga sektor industri tersebut di antaranya merupakan industri besi dan baja, petrokimia, dan kimia dasar. “Ketiganya itu punya banyak sekali produk turunan yang dibutuhkan berbagai sektor lain,” ujarnya.

Menurutnya, industri pengolahan besi dan baja banyak menghasilkan produk bernilai tambah. Pemerintah mendorong pengembangan industri baja dengan melibatkan pabrikan baja BUMN Krakatau Steel bersama pabrikan baja Korea Selatan Posco untuk mengakselerasi klaaster baja dengan kapasitas 10 juta ton per tahun.

Di samping itu, pemerintah mulai mendorong pengembangan industri hulu petrokimia. Menurutnya, Indonesia punya untuk mulai mengembangkan sektor industri petrokimia sejak beberapa dekade silam.

Hanya saja, pengembangan sektor industri tersebut belum dianggap sebagai sebuah agenda prioritas. Padahal, ketergantungan impor berbagai produk petrokimia relatif tinggi untuk kebutuhan pabrikan plastik, polyester, dan sebagainya.

”Itu mengapa pemerintah berjuang agar investor petrokimia masuk ke kilang Tuban dan Cilacap. Rosneft dari Rusia mencoba masuk ke Tuban dan Aramco dari Arab Saudi didorong masuk ke Cilacap,” ujarnya.

Di samping itu, pemerintah juga tengah memprioritaskan hilirisasi industri kimia dasar karena sebagian besar produk kimia dasar merupakan bahan baku utama pabrikan farmasi yang sepenuhnya masih bergantung impor.

“Kita keluarkan banyak sekali uang untuk BPJS, tetapi aneh kalau kita biarkan uangnya bocor begitu saja untuk mengimpor obat,” ujarnya.

Tag : industri
Editor : Ratna Ariyanti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top