32 Tahun Bisnis Indonesia, Inilah Kisah Edisi Perdana

Pada zaman Orde Baru Bisnis Indonesia tampil beda karena berani mengkritik pemerintah dengan cara yang elegan. Pasalnya, meskipun sudah ada deregulasi perbankan, para pengusaha tetap saja sulit mengurus izin pendirian bank.
Lahyanto Nadie | 14 Desember 2017 07:03 WIB
Direktur Pemberitaan Bisnis Indonesia Arif Budisusilo (kedua kiri), disaksikan Pemimpin Redaksi Hery Trianto (kiri) ketika membuka perdagangan saham, di Jakarta, (18/5/2016). - JIBI/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA - Pagi ini, 32 tahun yang lalu, tepatnya 14 Desember 1985, pukul 10.00, di rumah Kramat V No. 8, Jakarta Pusat, Pemimpin Umum Bisnis Indonesia Sukamdani Sahid Gitosardjono memotong tumpeng warna kuning. Potongannya diberikan kepada Pemimpin redaksi Amir Daud dan Pemimpin perusahaan Shirato Syafei.

Ibu Juliah Sukamdani sambil tersenyum tak lepas mendampingi sang suami, menyaksikan momentum bersejarah itu. Para wartawan yang hanya 20 orang tampak girang, begitu pun karyawan yang juga baru 20 orang.

Edisi perdana Bisnis Indonesia beredar di kalangan terbatas. Maklum, sirkulasi belum berjalan optimal. Mereka yang terlibat atas terbitnya koran itu tentu berbangga hati. Padahal malam hari sebelum terbit mereka stress berat.

Mikrowa Kirana, kini Direktur PT Bank Bukopin, harus mengecek ulang halaman 1 edisi perdana Bisnis Indonesia. Abdullah Alamudi, redaktur senior, berkata kepadanya. "Ini hari bersejarah, Anda akan dikenang sepanjang massa karena piket menangani edisi pertama koran ini," begitu pernyataan Alamudi kepada Nana, panggilan akrab Mikrowa.

Nana mengaku berkeringat dingin. Ia takut salah. Saya juga tak kalah takut. Sebagai korektor, jika ada typo atau ejaan tak sesuai kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar, sayalah yang digantung. Alamudi beberapa kali menekankan bahwa fungsi korektor sebagai final product controller sangat vital, itulah yang membuat saya ekstrahati-hati.

Nana adalah satu dari 20 wartawan Bisnis Indonesia yang bekerja sejak 1 Agustus 1985 untuk mempersiapkan penerbitan koran ini. Wartawan lainnya adalah Moh. Imam Bahtera, Suhardiyoto, Bambang Istijab, Bambang Adipurwa, Jacobus Blikololong, Andrianus Pao, Des Alwi, Rahmayulis Saleh, Hilda Sabri, Duhita Hayuningtyas, Sri Rejeki Handayani alias Menuk Soewondo, Retno Indarti Dharmojo, Andi F. Noya, Nono Budiono, Nano Sungkono, Herry Suhendra, Adolf Hutabarat, dan Rosadi Ruslan.

Di bawah komando Amir Daud sebagai pemimpin redaksi, ada redaktur senior Abdullah Alamudi dan dua orang redaktur yaitu Ery Soedewo dan Mansur Amin. Desk foto digawangi oleh Syahrir Wahab dengan fotografer Mochtar Zakaria, Wahyoe Hendrodjanoe dan Bambang Harsri Irawan. Tak satu pun di antara mereka yang kini masih di Bisnis Indonesia. Ada keluar pada tahun-tahun awal karena pindah ke perusahaan lain, pensiun dini, namun ada juga sampai lulus di usia 55 tahun.

Akhirnya terbit

Setelah 4 bulan, 13 hari mempersiapkan kelahiran koran ini, dengan harap-harap cemas karena belum punya SIUPP (surat izin usaha penerbitan pers), akhirnya terbit juga surat kabar yang dinanti-nanti. Dari Kramat V, saya bersama Sarmili, staf produksi, langsung naik motor ke Palmerah, Jakarta Barat, tempat Bisnis Indonesia dicetak di percetakan PT Temprint.

Pak Sukamdani dan Ibu Sukamdani, datang ke percetakan pukul empat pagi. Dari manajemen ada Wakil Pemimpin Umum Lukman Setiawan dan Pemimpin Perusahaan Shirato Syafei, petinggi redaksi yang hadir adalah Abdullah Alamudi yang menuliskan inisialnya dengan AA. Pernah melihat koran lahir? Tanya Pak AA kepada saya, "Pernah Pak, Harian Terbit." Sebelum bekerja di Bisnis Indonesia saya memang bekerja di PT Metro Pos yang mencetak koran Pos Kota dan Harian Terbit.

Menjelang terbit, sejumlah wartawan berpengalaman bergabung ke jajaran redaksi a.l. Banjar Chaeruddin, Nur Hidayat, Eddy Prabowo, Arsyad Yahya Ritonga dan Ida Bagus Oka Harimurti, sebagai redaktur. Mas BC, panggilan akrab Banjar Chaeruddin menangani halaman Nusantara, Pak Nur pegang halaman Opini dan Santai, Pak Eddy mengelola olahraga dan Pak Arsyad halaman Kota.

Beberapa wartawan lain menyusul sebagai reporter seperti Emron Pangkapi, Yan Triasmoro, dan Tridoso Marto Kuntobharoto. Ada juga wartawan stringer yang ikut mempersiapkan edisi perdana yaitu Turman Panggabean, Adi Sutadi, Nuhasyim N. Soleh, dan Tanda Brahmana.

Banyak dukanya daripada suka di kantor Kramat V. Dua tahun pertama hidup penuh kesulitan dan koran belum diterima pasar. Sebagai koran ekonomi terbit 12 halaman, namun didominasi konten umum yang terdiri dari 3 halaman olahraga, 2 halaman internasional, Nusantara, Santai dan Opini. "Koran kita nggak laku, gue bawa balik lagi ke kantor," kata Abdul Jamalsyah, staf bagian sirkulasi, sambil membanting koran.

Wartawan Bisnis Indonesia angkatan Kramat dan Slipi.

 

Pemimpin Redaksi Diganti

Dua tahun yang sulit, akhirnya terjadi penggantian pemimpin redaksi. Pak Amir harus rela meninggalkan Bisnis, digantikan Pak Sukamdani yang ikut ujian tertulis sebagai wartawan di PWI Jaya.

"PWI menjual kartu pers kepada pengusaha," begitu tulis majalah Editor.

Presiden Direktur PT Jurnalindo Aksara Grafika (JAG) Eric FH Samola berpesan bahwa redaksi harus fokus menulis berita pasar modal. Tentu saja awak redaksi bingung karena tak ada aktivitas di bursa efek ketika itu.

"Lihat Singapura dan Malaysia bursa efeknya sudah berkembang, berarti beberapa tahun ke depan pasar modal kita juga bisa maju," katanya serius.

Redaktur Pelaksana Banjar Chaeruddin menterjemahkan pesan Dirut dengan mengirim para reporter untuk meliput bursa. Tidak ada aktivitas transaksi. Para pialang dan petugas bursa hanya main kartu gaple. Kembali ke kantor para wartawan mengeluh tak dapat berita. "Nggak ada transaksi hari ini," kata Nurman Jalinus, reporter desk bursa.

"Nah, itu juga berita!" kata Sjarifuddin, Redaktur Bursa dan Moneter.

Alumni Bisnis Indonesia angkatan 1985 hingga 1990-an

Berkah Pasar Modal

Setahun kemudian, Bisnis Indonesia mulai dikenal publik pembaca dari kalangan dunia usaha. Ini hikmah dari kebijakan pemerintah yang tertuang dalam Pakdes 1987 merupakan penyederhanaan persyaratan proses emisi saham dan obligasi.

Biaya yang sebelumnya dipungut oleh Bapepam, seperti ongkos pendaftaran emisi efek, dihapuskan. Selain itu dibuka pula kesempatan bagi pemodal asing untuk membeli efek maksimal 49% dari total emisi.

Pakdes 87 juga menghapus batasan fluktuasi harga saham di bursa efek dan memperkenalkan bursa paralel. Sebagai pilihan bagi emiten yang belum memenuhi syarat untuk memasuki bursa efek.

Berkah makin melimpah setelah Pakto 88 yang isinya tentang kebijakan pada sektor perbankkan, namun mempunyai dampak terhadap perkembangan pasar modal. Pakto 88 berisikan tentang ketentuan 3 L (Legal, Lending, Limit), dan pengenaan pajak atas bunga deposito.

Pengenaan pajak ini berdampak positif terhadap perkembangan pasar modal. Sebab dengan keluarnya kebijakan ini berarti pemerintah memberi perlakuan yang sama antara sektor perbankan dan sektor pasar modal.

Pakto 88 adalah aturan paling liberal sepanjang sejarah Republik Indonesia di bidang perbankan. Pemberian izin usaha bank baru yang telah diberhentikan sejak 1971 dibuka kembali oleh Pakto 88. Hanya dengan modal Rp10 milyar maka seorang pengusaha bisa membuka bank baru.

Bisnis Indonesia tampil beda karena berani mengkritik pemerintah Orde Baru dengan cara yang elegan. Pasalnya, meskipun sudah ada deregulasi perbankan, para pengusaha tetap saja sulit mengurus izin pendirian bank.

Secara berseri berita keluhan para pengusaha itu dimuat di halaman 1. Gongnya adalah berita berjudul "Menteri saling lempar tanggung jawab" yang membuat merah telinga Menteri Keuangan dan Menteri Kehakiman. Padahal berita keras seperti itu di zaman Orde Baru, berisiko dibreidel alias SIUPP (surat izin usaha penerbitan pers)-nya dicabut. SIUPP adalah nyawa media ketika itu.

Saya ingat betul Menteri Kehakiman Ismail Saleh marah besar dan memasukkan Bisnis Indonesia ke dalam daftar hitam media. Wartawannya diharamkan meliput kegiatan di lingkungan Departemen Kehakiman. Firdaus Baderi, penulis berita soal perbankan dan moneter, mendapat apresiasi dari awak redaksi lainnya. "Koran kita jadi ngetop gara-gara tulisan Firdaus," begitu kata Badrul Fadhil, wartawan yang biasa meliput desk Perdagangan.

Pengusaha dan bankir makin banyak yang membaca Bisnis. Pada Desember 1989, pasar modal booming. Bisnis menjadi satu-satunya koran yang setia meliput aktivitas bursa sehari-hari. Utari Sulistyowati sebagai pengola halaman bursa sibuk luar biasa. Saya dan Anna Marwiyati bersama Nurman Jalinus yang meliput bursa, bangga karena selalu ditunggu-tunggu ketika akan konferensi pers perusahaan go public atau pun public expose calon emiten.

32 Tahun

Tiga hari menjelang ulang tahun ke-32 Bisnis Indonesia, saya diajak makan malam oleh Hery Trianto, orang nomor wahid redaksi koran ini. Menunya enak sekali. HTR, begitu dia menulis inisialnya, pilih kwetiau siram dan siomay yang sangat enak sekali karena di dalamnya terisi ayam dan udang. Saya pilih tahu goreng dan jamur krispi, lalu kami makan bareng. "Enak sekali, cocok," kata saya. HTR mengamini. Suasana di Imperial Kitchen & Dimsum, Citywalk, ramai, umumnya mereka berpasangan.

Saya sering makan bareng dengan Pemred sebelumnya, mulai dari Amir Daud, sepulang dari shalat Jumat di hotel Borobudur Lapangan Banteng dengan sedan Mazda biru telor asin keluaran terbaru, menuju ke kantor Bisnis Indonesia di Kramat V Nomor 8. Saya lupa tanggal dan bulannya, tapi jelas itu 1986 dan berulang di tahun berikutnya hingga Januari 1990.

Makan siang bersama Pak Sukamdani, Pemred ke-2 juga sering. Memang tidak berdua, tetapi ramai-ramai. Terakhir saya makan malam bareng Pak Sukamdani, Pak Rachmat Gobel, dan Ketua Kadin Jepang, Mas Haryadi Sukamdani dan Bu Lulu Terianto di Hotel Sahid untuk menjamu tamu dari Jepang.

Pak Erry Soedewo, Pemred periode November 1992-Januari 1994 juga sering nraktir saya. Mengendarai Suzuki Forza 1992, kami sering pulang bareng ke arah Depok dan mampir di Pasar Minggu untuk makan nasi goreng atau sate kambing.

Begitu pun mas Banjar Chaeruddin yang menjadi Pemred cukup lama, sejak Juni 1994 hingga September 2000. Makan bareng Mas BC, bukan hanya di kantor saja, tetapi juga restoran, rumah para taipan, kediaman mas BC sendiri, hingga gubug saya, di pinggir empang.

Makan bareng Sjarifuddin juga sering meskipun ia tercatat sebagai Pemred yang paling sebentar yaitu hanya 19 bulan. Kerap kami makan di kantor karena ia rajin bawa bekal, dan saya beli di warung Sunda, belakang Wisma Bisnis Indonesia, Slipi. Sesekali kami makan bareng seusai main bulutangkis di Kemanggisan.

Nah, dengan Mas Ahmad Djauhar (periode April 2002-Agustus 2009), merupakan makan bareng yang paling bervariasi, baik menu maupun lokasinya. Mulai masakan Betawi, Jawa, China, Jepang, hingga menu Eropa. Tempatnya juga pindah-pindah baik di Jakarta maupun di Jogja. Kami memang pemburu kuliner.

Arif Budisusilo, yang dikenal dengan panggilan Mas AB (1 Agustus 2009-1 Januari 2017), tentu saya punya kesan tersendiri karena cukup lama bersama menjadi bagian manajemen redaksi media ini. Hampir semua restoran dan warteg dekat kantor pernah kami coba mulai dari soto Betawi Bang Karim, RM Sederhana, Sate Djono, RM Surya, Warung Bumen hingga soto Boyolali dan seabreg menu enak lainnya.

Sengaja saya berbicara mengenai makanan, karena setiap ulang tahun memang banyak makanan enak.

Di setiap detik akan ada pertumbuhan, di setiap jam akan ada perubahan, di setiap hari akan ada tingkatan, di setiap pekan akan ada pembaharuan, di setiap bulan ada gajian dan di setiap tahun selalu ada yang ulang tahun. "Selamat ulang tahun Bisnis Indonesia"

Tag : koran, bisnis indonesia
Editor : Lahyanto Nadie

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top