Budi Karya: Pembiayaan Proyek Revitalisasi Jalur KA Jakarta-Surabaya dari Pinjaman Jepang

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi memastikan skema pembiayaan proyek revitalisasi jalur kereta api di utara Pulau Jawa rute Jakarta-Surabaya adalah pinjaman dari pemerintah Jepang.
Yudi Supriyanto | 14 Desember 2017 18:39 WIB
Ilustrasi: Kereta cepat Jepang - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA — Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi memastikan skema pembiayaan proyek revitalisasi jalur kereta api di utara Pulau Jawa rute Jakarta-Surabaya adalah pinjaman dari pemerintah Jepang.

Pemerintah berencana membangun jalur KA rute Jakarta-Semarang terlebih dahulu sebelum sampai Surabaya dalam proyek revitalisasinya.

Budi menuturkan skema pembiayaan revitalisasi prasarana kereta api di jalur utara Pulau Jawa tersebut tidak menggunakan skema kerja sama pemerintah badan usaha [Public Private Partnership/KPBU] lantaran Jepang hanya bersedia dengan pinjaman.

Oleh karena itu, lanjutnya, proyek revitalisasi tersebut akan masuk dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dengan skema pembiayaan berupa pinjaman murni. Menurutnya, proyek tersebut akan digarap pada 2019. “Jepang bersedianya dengan loan,” kata Budi Jakarta, Kamis (14/12).

Budi menjelaskan pinjaman yang akan diberikan oleh pemerintah Jepang terkait dengan proyek revitalisasi tersebut rencananya memiliki tenor sekitar 40 tahun.

Kebutuhan biaya untuk melakukan revitalisasi jalur kereta api di utara Pulau Jawa hingga Semarang pada awal pembangunan, lanjutnya belum tentu sebesar Rp51,5 triliun. Kebutuhan tersebut, lanjutnya, masih harus dioptimasi dan lebih rendah.

Budi menuturkan bentuk revitalisasi jalur kereta api di utara Pulau Jawa tersebut hingga saat ini belum ada perubahan dari hasil sebelumnya dalam diskusi dengan wakil presiden.

Dalam diskusi, ungkap Budi, pemerintah mengarahkan bentuk revitalisasi menggunakan rel berukuran 1067 milimeter atau narrow gauge dan dibangun di sebelah sisi jalur existing.

Dengan bentuk revitalisasi tersebut, dia menuturkan akan ada kombinasi penggunaan jalur antara yang lama atau existing dengan yang baru selain biaya yang terjangkau. “Sejauh ini tidak ada perubahan [Bentuk revitalisasi],” katanya.

Tag : Kereta Cepat
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top