Seperempat Impor Nonmigas Indonesia Dikuasai China

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto menyatakan China masih menjadi negara terbesar yang memasok barang ke RI saat ini, yaitu sekitar seperempat impor nonmigas berasal dari negara Tirai Bambu itu.
Martin Sihombing | 15 Desember 2017 14:58 WIB
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto (kiri) menyampaikan paparan tentang perkembangan ekspor impor Indonesia pada November 2017, didampingi Direktur Statistik Harga Yunita Rusanti di Jakarta, Jumat (15/12). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto menyatakan China masih menjadi negara terbesar yang memasok barang ke RI saat ini, yaitu sekitar seperempat impor nonmigas berasal dari negara Tirai Bambu itu.

"Negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari-November 2017 ditempati oleh China dengan nilai US$31,78 miliar   atau 26,46%," kata Suhariyanto di Jakarta, Jumat (15/12/2017).

Suhariyanto memaparkan negara pemasok barang impor nonmigas terbesar setelah China pada periode tersebut adalah Jepang sebesar US$13,89 miliar  (11,56%), dan Thailand US$8,44 miliar (7,03%).

Jumlah kontribusi impor dari China yang sekitar seperempat keseluruhan atau 26,46%  itu bahkan lebih besar dari kontribusi impor nonmigas dari total kawasan ASEAN yaitu 20,37%  dan Uni Eropa 9,32%.

Sementara peningkatan impor nonmigas terbesar November 2017 dibanding bulan sebelumnya adalah golongan mesin dan pesawat mekanik, yang naik  US$378,5 juta  dan penurunan terbesar adalah golongan serealia, yang turun sebesar US$67,9 juta.

Adapun dilihat dari golongan penggunaan barang, baik barang konsumsi, bahan baku/penolong dan barang modal selama Januari-November 2017 meningkat dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yaitu masing-masing 15,19%, 16,37%, dan 11,53%.

Sebelumnya, para pemimpin dan pebisnis dari negara anggota ASEAN Plus Three (ASEAN+3), yang terdiri atas 10 negara ASEAN ditambah Jepang, China, dan Korea Selatan, menyerukan untuk sistem perdagangan yang lebih terbuka.

Seruan itu disampaikan pada Pertemuan Tatap Muka antara Pemimpin ASEAN Plus Three (APT) dengan Dewan Bisnis Asia Timur (EABC) yang dipimpin Presiden Rodrigo Roa Duterte di Philippine International Convention Center (PICC), seperti dilaporkan Antara dari Manila, Filipina, Selasa (14/11).

Dalam pertemuan tersebut, Presiden Duterte menyebutkan bahwa perdagangan terbuka dan bebas diperlukan untuk mengintegrasikan ekonomi negara-negara di Asia Timur dan menarik mitra dari kawasan lain di dunia.

"Sangat penting untuk memiliki mitra bisnis regional bersama kami saat kami bekerja sama dalam mendorong realisasi Komunitas Asia Timur yang lebih besar dan progresif," kata Presiden Duterte.

Menanggapi hal itu, para pemimpin negara ASEAN lain dan pemimpin China, Jepang, dan Korea Selatan pun menyatakan dukungannya terhadap visi Komunitas Ekonomi Asia Timur tersebut.

Pertemuan antara pemimpin ASEAN Plus Three dan EABC itu juga fokus membahas upaya-upaya untuk membuat bisnis berkembang di bawah Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (RCEP).

Para pemimpin dan pebisnis negara ASEAN Plus Three memandang bergabung dalam RCEP sebagai langkah logis berikutnya dalam integrasi regional ASEAN untuk memperkuat kawasan Asia Tenggara sebagai pusat perdagangan global.

Sumber : ANTARA

Tag : impor
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top