Pasokan Gas Menyusut, Pabrikan Setop Produksi

Sebagian pabrikan yang beroperasi di wilayah Sumatra Utara mulai menghentikan kegiatan produksi lantaran keterbatasan pasokan gas.
N. Nuriman Jayabuana | 18 Desember 2017 17:28 WIB
Petugas memeriksa saluran pipa milik PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk. di Jakarta. - JIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA—Sebagian pabrikan yang beroperasi di wilayah Sumatra Utara mulai menghentikan kegiatan produksi lantaran keterbatasan pasokan gas.

Ketua Umum Forum Industri Pengguna Gas Bumi Achmad Safiun menyatakan industri mulai kesulitan memperoleh gas sejak 2 pekan terakhir.

“Pasokan gas ke industri di Sumatra Utara menurun lagi ke bawah 50%. Pemerintah mesti cepat turun tangan, tanpa gas pabrik tidak mungkin bisa produksi,” ujarnya kepada Bisnis.com, Senin (18/12).

Menurutnya, penghentian kegiatan produksi akibat kelangkaan gas tetap membuat pabrikan menanggung kerugian yang tidak sedikit karena industri tak serta merta melakukan pemutusan hubungan kerja kepada karyawan.

Terlebih, penyedia gas malah mengedarkan surat yang meminta industri mengurangi pemakaian gas hingga ketersediaan pasokan diperkirakan kembali normal pada 25 Desember mendatang. Industri yang mengajukan kuota tambahan, ujarnya, malah terkena surcharge atau biaya tambahan sebesar 120% dari tarif US$9,95 per MMBTU.

“Sudah pasokannya down, harganya termahal di dunia,” ujarnya.

Sebelumnya, Yustinus Gunawan, Ketua Asosiasi Kaca Lembaran dan Pengaman (AKLP), menyampaikan tarif gas yang tidak kunjung turun menyebabkan salah satu anggota dari asosiasi kaca lembaran nasional berhenti berproduksi. Pabrik kaca PT Tossa Shakti di Kendal, Jawa Tengah, telah berhenti produksi pada tahun ini.

Yustinus menambahkan, dengan keputusan stop produksi pabrikan dari Kendal tersebut berakibat pada penurunan produksi kaca nasional. AKLP mencatat kapasitas produksi anggota dari asosiasi ini menjadi 1,22 juta ton per tahun dibandingkan dengan sebelumnya yang mencapai 1,5 juta ton per tahun.

"Harga gas masih menjadi permasalahan utama karena ongkos produksi lembaran kaca mencapai 25%-27% disumbangkan oleh [biaya] energi tersebut," ujar Yustinus.

Menurutnya, dengan  harga gas yang mencapai US$9,2 per MMBtu produsen nasional tidak dapat bersaing dengan pabrikan asal luar negeri.

“Semisal Malaysia yang mendapatkan investasi dari China untuk memproduksi kaca lembaran karena harga gas di Negeri Jiran tersebut US$5,5 per MMBtu,” katanya.

Keberadaan pabrikan kaca asal Malaysia tersebut dapat mengancam produsen kaca domestik. Hal ini karena produsen kaca Malaysia tersebut telah mengincar pasar Indonesia dengan menimbang dari faktor populasi dan ongkos logistik yang lebih murah dibandingkan dengan ekpansi ke negara lain.

“Produk Malaysia di pasar domestik akan lebih murah dibandingkan dengan produsen nasional karena harga gas mereka lebih rendah,” imbuhnya.

Tag : gas
Editor : Ratna Ariyanti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top